Rabu, 29 April 2015

Dongeng Sebelum Tidur

Menurut para akhlinya mengatakan bahwa dongeng adalah salah satu cara untuk membangun karakter anak sejak usia dini.
Ternyata, ketika usia PlayGroup saya, sekitar tahun 1950-an-1960-an, saya  memang mendapatkan dongeng setiap malam menjelang tidur.
Yang mendongengkan saya setiap malam sebelum tidur adalah seorang pendongeng idola saya.

Paman Sang Pendongeng idola.
Paman ,sayang kepada saya dan semua keponakannya. Biasanya, kami menginap di tempat paman bersama dua orang sepepu saya yang sebaya. Ketika bercerita, wawasan paman yang cukup luas biasanya menjadikan  ramuan ceritanya untuk lebih mengapresiasi dongengan. Yang jelas, paman juga pintar menyesuaikan ramuan cerita dengan selera anak2 yang seusia Play Group. Keakhlian paman mendongeng disebabkan karena paman punya Hobby membaca. Salah satu bacaannya ketika itu adalah surat kabar harian yang terbit ketika itu yaitu "Suluh Indonesia".Selain itu,  juga ada langganan majalah yang bernama "Sket Masa". Koran Suluh Indonesia belakangan berubah namanya menjadi "Suluh Marhaen" yang kini menjadi cikal bakal harian "Bali Post",  kini cukup manyak oplahnya setiap hari di Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan majalah Sket Masa, adalah majalah politik ketika itu. Setelah saya disekolahkan di Sekolah Dasar dan saya mulai dapat membaca saya suka membaca majalah Sket Masa. Sket Masa waktu itu berisikan artikel tentang perpolitikan di era itu dan juga banyak berisi sanjungan-sanjungan terhadap kebijaksanaan Presiden Soekarno ketika itu. Tidak itu saja, paman juga gemar membaca buku. Buku kekawin Mahabharata dan Ramayana adalah dua judul selain dari banyak buku2 yg menjadi bacaan paman.

Ada dongeng yang sampai kini masih membekas di hati yaitu "Kisah Bhagawan Dharmaswami".

Tersebut seorang pandita bernama Bhagawan DharmaSwami. Dia adalah seorang pendeta yang miskin. Tetapi sang Bhagawan sangat teguh melakukan tapa brata (pengendalian perilaku). Setiap pagi tak pernah luput melakukan Surya Sevana ( memuja matahari di pagi hari).

Oh, Dewa Surya yang pemurah, konon selalu mencatat keteguhan hati sang pandita. Hingga suatu hari dari langit terdengan suara............

Bagaimana suara dari langit? Pertanyaan ini muncul dibenak, ketika paman mengatakan dari langit terdengar suara. Tapi, paman tak langsung mengatakan bagaimana suara dari langit itu. Paman diam sejenak, tiba2 terdengan suara "bruuut"...! Eh, paman kentut! Itulah yang barang kali contoh buruk yang dilakukan oleh seorang pendongeng idolaku kepada anak usia Play Group waktu itu. Kami tengah  asyik untuk mencari tahu suara dari langit, paman malah mengeluarkan suara yang tidak sopan dari pantatnya. Tapi, mungkin juga itu dilakukan demi kesehatan. Karena ketika ada angin yang mendorong-dorong hendak keluar dari dalam perut, tidak segera dikeluarkan, bisa dibayangkan perut akan sakit. Kamipun tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Tak apalah, yang penting cerita dilanjutkan.

Suara dari langit mengatakan : "hai pandita yang teguh hati, kuberi engkau seekor lembu"...
Ketika itu, saya terhenyak dan terus menengadahkan kepala keatas langit-langit rumah. Fikiran bertanya-tanya, bagaimana seekor lembu diberikan kepada sang pendita miskin itu. Apakah seekor lembu dijatuhkan begitu saja dari langit? Bayangan saya, jika seekor lembu dijatuhkan begitu saja dari langit, kalau menimpa sang pendita, bagaimana jadinya. Mungkin sang pendita bisa pingsan, bahkan mungkin bisa mati tertimpa seekor lembu yang jatuh dari langit. Atau, mungkin sang lembu babak belur dan mati jika dijatuhkan dari langit. Itulah, fikiran sudah mulai berkembang. Segala sesuatu dipertanyakan dan tak henti untuk bertanya.

Tidak. Seekor lembu tak dijatuhkan dari langit. Tetapi, seekor lembu begitu saja muncul dihadapan sang pandita. Duh, senangnya sang pandita kini memiliki seekor lembu yang merupakan hadiah dari dewa Surya yang pemurah. Lembu ini tentu akan menjadi peliharaan sang pandita dan akan memberikan penghasilan bagi sang pandita yang miskin itu. Saya semakin tertarik dan senang mendengar, karena sang pandita yang miskin kini mendapat bantuan seekor lembu dari dewa Surya. Tak ubahnya di jaman pembangunan Indonesia sekarang ini. Orang miskin mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada juga orang miskin mendapatkan bantuan bedah rumah. Para peternak yang tergolong miskin juga sering mendapat bantuan ternak. Mulai dari bantuan ternak itik, ayam, kambing, babi dan bahkan ada bantuan ternak sapi, seperti bantuan yang didapat Bhagawan Dharmaswami. Sedikit disayangkan, bantuan2 pemerintah yang berkelimpahan dari berbagai dinas dan instansi yang membidangi ternyata banyak yang tak sesuai sasaran dan banyak yang melenceng dari tujuan dan cita2 meningkatkan kesejahteraan rakyat secara permanen. Ini mungkin karena kendornya sistim pengendalian dan pengawasan. Semoga, semakin kedepan para aparat yang membidangi pengendalian dan pengawasan semakin kuat, sehingga tujuan dan cita2 kesejahteraan secara permanen dapat terwujud.

Apa gerangan yang akan dilakukan sang pandita se-hari2 dengan seekor lembu itu?
Lembu itu berkelamin jantan berwarna hitam legam dan kulitnya sangat berminyak. Juga sangat gemuk diberi nama "Nandaka."

Di leher Nandaka terdapat lemak yang berlipat2 yang disebut punuk sebagai pertanda kegemukan seekor lembu.
Bhagawan Dharmaswami  mulai berfikir untuk memelihara dan merawat si Nandaka. Mengembalakannya dan memberi makan. Dan yang terpenting, si Nandaka dapat membantunya untuk mendapatkan penghasilan.

Dari keinginan untuk mendapatkan penghasilan,...mucul fikiran sang pandita untuk menjadikan si Nandaka sebagai lembu pengangkut kayu bakar untuk dijual di pasar. Sungguh ini fikiran yang sangat kreatif dan inovatif.

Maka, mulai saat itu sang Pandita setiap hari membawa kayu bakar kepasar yang diangkut oleh si Nandaka. Nandaka sangat kuat untuk mengangkut banyak beban. Se-hari2 kerja sang pandita dengan dibantu si Nandaka adalah sebagai pencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Barangkali karena kemurahan sang dewata, setiap hari kayu bakar yang diangkut oleh lembu Nandaka habis terjual. Semakin lama sang Pandita semakin banyak uangnya. Uang itu, kembali dibelikan lembu, sehingga kini sang pandita memiliki dagangan kayu bakar yang sangat besar dan sangat laris. Begitulah tak berapa lama sang pandita Bhagawan Dharmaswami menjadi semakin kaya .

Kini sang pandita tidak sekedar pedagang kayu bakar yang tergolong kecil, tapi kini telah berubah menjadi saudagar besar. 

Nandaka yang tadinya hanya sendirian, kini  telah memiliki banyak kawan lembu2 lain yang dibeli oleh sang pandita dari hasil berjualan kayu bakar. Dan lembu2 itupun beranak pinak. Bahkan kini sang pendita telah mampu membeli tunggangan yang mewah di jaman itu yaitu seekor kuda. Dengan seekor kuda sang pandita dapat bergerak dengan lebih lincah dan cepat. Demikianlah sang pandita melakukan kontrol terhadap lembu2 dan pengantar lembu yang menjadi karyawan sang pandita. Kini sang pendita tidak hanya menjual kayu bakar, tapi juga menjual barang2 kebutuhan lainnya dan semua dagangannya laku keras.

Begitulah ceritanya, sengat mudah  Bhagawan Dharmaswami menjadi pandita yang kaya raya dengan harta benda yang melimpah.
Begitu juga halnya, kesadaran hati nurani tinggi, kini berubah menjadi kesadaran otak yang selalu berfikiran bagaimana caranya mencari untung yang sebesar-besarnya. Tentu dengan memanfaatkan kemampuan uang dan harta bendanya yang  melimpah. Selain itu, kini Bhagawan Dharmaswami nampak semakin keras mempekerjakan lembu2 dan karyawannya. Termasuk si Nandaka yang menemani dan telah membantu sang Bhagawan sejak ketika masih miskin dahulu. Nandaka merasa bahwa tiada balas jasa yang setimpal atas beban berat yang selalu dipikulnya untuk memperkaya sang Bhagawan yang kini telah lupa daratan.Semakin hari tubuhnya menjadi semakin kurus, akibat beratnya beban kerja yang ditimpakan sang Bhagawan kepadanya.

Diceritakan kini, pada suatu hari Bhagawan Dharmaswami hendak berjualan memperluas jangkauan pasarnya  ke pasar ibu kota.
Untuk menuju pasar ibu kota, harus melewati hutan belantara yang sangat angker dan lebat, bernama hutan "Malawa."

Melewati hutan Malawa, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Baik persiapan fisik, mental perbekalan yang cukup untuk bisa sampai dengan selamat menempuh perjalanan melewati hutan Malawa.Selain hutannya sangat angker, disana dihuni banyak binatang buas dan tempat persembunyuian para "begal".

Karena tak lagi hanya berjualan kayu bakar, tapi ia juga menjual berbagai barang yang tak tertandingi mutunya oleh pedagang manapun. Kini tidaklah cukup punggung Nandaka untuk membawa semua barang dagangan sang Bhagawan ke pasar. Untuk mengangkut barang dagangannya diperlukan berpuluh-piluh pedati. Begitulah ceritanya, tak terfikirkan akal sehat, Bhagawan DharmaSwami kini menjadi saudagar yang semakin kaya raya...

Untuk berangkat ke pasar ibu kota, Bhagawan Dharmaswami harus mengajak banyak pelayan dan pengawal, kemudian menyiapkan pedati2 yang kokoh dengan roda2 yang kuat. Belum lagi harus memilih lembu2 yang tangkas dan bertenaga besar untuk menarik pedati2 dagangannya. Sungguh tak boleh main2 untuk melewati hutan Malawa. Tidak boleh lengah dan meremehkan, sebab sudah banyak nyawa melayang di hutan itu. Nyawa yang sia-sia disebabkan oleh sikap lalai dan tak waspada. Karena itu, Bhagawan Dharmaswami menyiapkan perjalanannya dengan cermat.
Rencananya ia akan memimpin rombongan dagangannya dengan berkuda agar mudah untuk bergerak kedepan dan kebelakang untuk memeriksa barisan pedati, sedangkan para pengawal akan mengapit kiri dan kanan setiap pedati dagangannya, lalu pelayan dan kusir pedati akan saling berjaga agar tak ada yang lengah dalam perjalanan itu...

Nah, singkat cerita, semua persiapan sudah cukup.
Diceritakan kini, disuatu pagi tibalah rombongan dagang itu di pinggir hutan Malawa, hutan angker yang ditakuti oleh semua orang. Begitulah rombongan itu terhenti untuk sejenak menata barisan.  Dari tengah hutan terdengar sayup-sayup suara berbagai binatang yang seakan menyambut kedatangan rombongan yang lewat. Wajah-wajah anggota rombongan Bhagawan Dharmaswami tegang, rasa takut mulai menjalari fikiran mereka. Dengan sigap Bhagawan Dharmaswami memacu kudanya, ia tak boleh lengah karena rasa takut. Rasa takut itu menular, harus segera diusir.  Hilir mudik kuda dihentak-hentak untuk memeriksa satu persatu dagangannya. Mengingatkan kepada semuanya, bahwa perjalanan melewati hutan Malawa harus dilampaui dengan cepat. "Paculah lembu-lembu itu seterusnya tanpa henti , karena sebelum matahari tenggelam, rombongan harus sudah keluar dari hutan Malawa! Makin cepat makin baik." Begitu perintah Bhagawan Dharmaswami berulang kali. Maka, rombongan itupun bergerak kencang memasuki hutan malawa. Gemuruh roda kini lenyap, digantikan oleh suara hutan yang riuh rendah, membuat bulu kuduk merinding. Suasana saat itu sungguh mencekam semua fikiran. Terkadang terdengar suara hauman harimau bersautan dengan lolongan srigala serta suara-suara burung yang merintih. Terkadang suara-suara itu terdenganr seakan mendekat, namun tak jelas arahnya dari mana, semua lurus menatap kedepan menahan rasa jerih.

Rombongan pedati terus bergerak cepat, semua kusir menghentakkan tali kekang,sesekali melecut pecutnya, kadang-kadang meneriaki lembu agar terus melangkah. Semua bertekad akan melewati hutan Malawa sebelum gelapnya malam tiba. Bhagawan Dharmaswami hilir mudik mengawasi rombongan, kemudian setelah terasa aman, ia memacu kudanya kedeepan dan memimpin rombongan, memastikan bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang akan membawa rombongan keluar dari hutan Malawa.

Akhirnya, batas hutan terlewati, semua merasa lega karena ternyata mereka dapat keluar dari hutan lebih cepat dari  batas waktu yang diperkirakan. Saat itu, matahari masih tinggi, Bhagawan Dharmaswami menghela kudanya makin jauh kedepan, mencari-cari tempat yang lapang dan aman untuk membangun perkemahan.

Tempat perkemahan telah ditemukan, sebuah tempat yang lapang dan teduh. Didekatnya ada sungai kecil tempat beristirahat yang menjanjikan keamanan. Rombongan satu persatu berhenti disitu. Para pengawal mebuat jebakan keamanan dari bambu yang diruncingkan sebagai ranjau. Ranjau2 itu dipasang mengitari perkemahan. Dengan demikian, rombongan akan terhindar dari serangan, baik binatang buas maupun para begal.

Bhagawan Dharmaswami puas hatinya melihat kesigapan para pengawalnya. Ia hendak menuju ke sungai untuk membersihkan diri . Namun langkahnya terhenti karena seorang pengawal datang dengan tergopoh-gopoh melaporkan bahwa ada satu pedati yang ditarik si Nandaka belum tiba.

Terkejut Bahgawan Dharmaswami menerima laporan salah seorang pengawal itu. Sama sekali tak disangka kalau ada pedati yang tertinggal. Dan bahkan yang tertinggal itu adalah pedati yang ditarik si lembu Nandaka, lembu hadiah dari  langit. Dengan rasa gugup dan khawatir Bhagawan Dharmaswami mengajak dua orang pengawal yang bernama I Pelet dan I Wipe segera menyusul balik ke tengah hutan. Di tengah hutan ditemukan si nandaka berjalan terseok-seok menunjukkan keletihan yang amat sangat.  Keempat kakinya bergemetaran menahan beratnya beban barang dagangan. Nafasnya memburu, mulutnya berbusa, keringatnya mengucur deras.

"Akh,.." terdengar suara rintihan si Nandaka. Dihadapan Bhagawan Dharmaswami Nandaka jatuh tersungkur. Melihat keadaan Nandaka yang setengah sekarat, Bhagawan Dharmaswami amatlah sedih. Meskipun sedih begitu, fikiran tetap tak berhenti untuk melakukan hitungan rugi dan laba.

"Oh, kamu Nandaka. Aku melihat ajalmu sudah dekat. Betapa sedihnya hatiku. Karena di tengah hutan ini kematianmu akan menjadi sia-sia. Karena ketika kamu telah mati, dagingmu akan disembelih, tapi tak ada saudagar yang mau membelimu. Jadi, betapa sia-sianya kematianmu Nandaka." Waktu paman mengungkapkan kesedihan Bhagawan Dharmaswami seperti itu,  terfikir oleh saya, betapa rakusnya Bhagawan Dharmaswami. Lembu Nandaka yang sudah lama menunjukkan pengabdiannya yang tulus, sehingga kini Bhagawan menjadi kaya raya, eh ujung-ujungnya tak tahu balas jasa orang. Malah ngomong mau jual daging si lembu Nandaka. Mestinya, Bhagawan Dharmaswami mencarikan obat untuk Nandaka. "Dasar pandita serakah." Demikian fikirku.

Demikianlah, singkat cerita Bhagawan Dharmaswami bergegas meninggalkan Nandaka, sementara dua orang pengawal I Pelet dan I Wipe ditugaskan untuk menunggu si Nandaka, dengan perintah jika Nandaka telah menemui ajalnya maka tubuhnya dibakar saja.

Setelah ditinggal Bhagawan Dharmaswami, I Pelet dan I Wipe, sama-sama saling berpandangan karena masing-masing berfikir dengan keras untuk mencari upaya apa yang hendak dilakukan untuk melaksanakan perintah Bhagawan Dharmaswami itu.
I Pelet merasakan gemetar dada yang ketakutan. Karena dia teringat bahwa kini dia tengah ditinggal hanya berdua ditengah hutan Malawa yang terkenal angker dan sangat berbahaya. Demikian juga dengan I Wipe yang dengan suara perlahan dan gigi bergemetar menahan takut ia mulai bersuara:"Baiknya kita segera tinggalkan si Nandaka disini, kalau tidak kita bisa berbahaya. Ini hutan Malawa, salah-salah kita bisa dimakan binatang buas, atau kena begal dan di bunuh di sini." I Pelet menyembunyikan rasa takutnya dengan mengajukan idenya. "Ya, begini caranya. Kita kumpulkan kayu bakar yang banyak. Kemudia kita letakkan melingkar dari tubuh nandaka. Kita bakar di ujung kayu bakar, lama2 api akan mendekat dan sampai ke tubuh Nandaka dan akhirnya akan membakar tubuhnya setelah dia menghembuskan nafasnya nanti." "Betul juga . Kalau kita bakar si Nandaka hidup-hidup, kita akan berdosa, karena tak boleh kita melakukan membakar orang hidup-hidup." Demikian I Wipe menimpali. Tak lama kayu bakarpun terkumpul, dan mereka mulai membakar diujung kayu bakar, asappun mulai membubung tinggi, pertanda api mulai membesar. Merekapun meninggalkan Nandaka sendirian dalam keadaan sekarat, dengan keyakinan bahwa Nandaka akan terbakar setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tiba di perkemahan, I Pelet dan I Wipe melaporkan kepada Bhagawan Dharmaswami bahwa Nandaka telah mati dan tubuhnya telah dibakar, sesuai perintah Bhagawan. Menerima laporan itu, Bhagawan Dharmaswami amatlah bersedih hati, sembari dg tetesan airmatanya ia berucap, "oh kau lembu Nandaka. Betapa malang nasibmu. Engkau harus meninggal di hutan Malawa. Yang lebih menyedihkan, kau meninggal dalam kesia-siaan. Karena dagingmu tak ada yang membeli. Seandainya kau meninggal di rumah. Tentulah dagingmu akan dapat dijual mahal. Dan aku akan dapat keuntungan besar dari menjual dagingmu itu. Sungguh, aku menyesali kepergianmu. Menyesali kematianmu yang sia-sia itu."

Begitulah brahmana yang bernama Bhagawan Dharmaswami. Ketika masih miskin, ia menjalankan tapa brata yoga semadi dengan benar. Menjalankan laku hidup sesuai dengan sasana kebrahmanan. Penuh cinta dan kasih. Kini, kekayaan yang melimpah ruah telah membuat Bhagawan Dharmaswami gelap mata dan gelap fikiran. Nuraninya yang dulu jernih, kini keruh oleh nafsu keserakahan, untuk mengumpulkan kekayaan yang sebesar-besarnya. Dia telah melupakan pembersihan hatinya. Dia telah melupakan cinta dan kasih sayangnya. Yang dia ingat hanya pundi-pundi uang yang terkumpul kian menggunung. Yang dia banggakan kini adalah kekayaan yang berlimpah ruah. Kematian nandaka dilihatnya sebagai kematian yang sia-sia, karena kematiannya tak menghasilkan sepeserpun uang untuk kekayaan Bhagawan Dharmaswami. Dia bersedih bukan karena mengasihi. Dia bersedih karena tak dapat tambahan uang dari menjual daging Nandaka yang telah berjasa sejak Bhagawan masih miskin. Betul-betul sang Bahgawan kini lupa daratan. Begitulah, kekayaan dapat membuat kita lupa tujuan kasih sayang. Siapapun dapat lupa. Tak terkecuali Bhagawan sang Brahmanapun dapat menjadi lupa oleh keasyikan mengumpulkan kekayaan.

Konon, Seorang brahmana yang tugas utamanya mempelajari dan mengajarkan ajaran-ajaran kerohanian, jika lupa akan sloka-sloka yang tertulis di pustaka-pustaka suci, dia bisa membacanya kembali. Tetapi jika dia mengabaikan perilaku yang benar, sesungguhnya dia telah kehilangan kebrahmanaannya. Secara umum hal ini memberi implikasi bahwa perilaku yang benar lebih penting daripada sekadar menghafal sloka-sloka dari pustaka suci. Tidak ada gunanya ribuan sloka suci memenuhi kepala kita jika itu tidak mampu mendorong kita untuk mempraktikkan perilaku yang benar. Itulah yang sering terjadi pada kita. Kita menghapal ayat-ayat kitab suci. Kita mendapat gelar tokoh agama. Kita dihormati karena status tokoh dalam agama yg kita anut. Tapi, sedikitpun tak pernah mampu mengamalkan makna dari ayat-ayat kitab suci tersebut. Maka ribuan ayat kitab suci menjadi tak berguna, karena tak mampu memperbaiki hidup dan kehidupan bersama kita.

Demikianlah, kini kita kembali kepada si lembu Nandaka........
Diceritakan di tengah hutan Malawa. Saat asap tebal membubung tinggi menutup pandangan, Nandaka yang hanya pura-pura sekarat segera bergegas bangkit. Ia menggeram-geram dan menghentak-hentakkan kakinya, pertanda bahwa ia masih tetap kuat dan sehat walafiat.
Selangkah demi selanggkah kakinya melangkah, menyusuri hutan Malawa yang rimbun, dengan berbagai rerumputan dedaunan segar, kini menjadi makanan Nandaka. Setelah beberapa hari, tubuhnya menjadi semakin segar dan kuat.

Singkat cerita, diceritakan perjalanan si lembu Nandaka ditengah hutan Malawa. Bertemu dengan kawanan anjing pemburu yg merupakan antek2 raja hutan bernama  Shri Singha Adiprabhu Candapinggala. Adalah seekor Singa penguasa hutan Malawa yang terkenal buas dan angker.

Anjing2 itu dipimpin oleh seorang Mahapatih anjing bernama "Sembada". Ia terkenal sebagai seorang patih yg licik. Dibawah patih Sembada adalah dua ekor anjing yg bernama "I Nohan dan I Tatit". Kedua ekor anjing ini suka mencabik2 mangsanya.

Begitulah, kawanan anjing dibawah pimpinan Sambada, menjadikan si Lembu Nandaka kini sebagai sasaran buruan, yg dagingnya akan dipersembahkan kepada sang Raja Singha Adhi Prabhu Candipinggala. Ditengah pertempuran yang sengit dimana si Nandaka dikeroyok kawanan anjing beramai-ramai. Apa yang terjadi? Nandaka dengan sigap memainkan jurus2nya. Ia menendang dan menanduk, hingga satu persatu anjing2 itupun terpental dan banyak diantaranya mengeluarkan darah segar. Merekapun ketakutan dan akhirnya melihat pasukannya telah kocar-kacir, maka patih Sembada memberi komando agar pasukan mundur dan melarikan diri.

Setelah kawanan anjing hutan dibawah pimpinan Mahapatih Sembada harus pulang dengan tangan hampa, bahkan banyak diantaranya yang terluka parah.
Sesmapai di istana, patih sembada, menghadap raja dan menyampaiakan kalau perburuan yg dipimpinnya  kali ini tak membuahkan hasil. Hal ini disebabkan karena ditengah hutan pasukan bertemu dengan binatang aneh. Binatang itu bertubuh besar dan gemuk, serta dikepalanya terdapat dua buah tanduk yang tajam dan runcing. "Kawanan kami para anjing2 abdi tuanku raja tak mampu menghadapi binatang yang bertubuh besar serta bertanduk. Untuk itu, maafkan kami baginda raja."

Demikianlah, Nandaka yang malang telah berhasil mengalahkan para anjing2 pemburu yang merupakan abdi  Singa yang bernama Adhi Parabhu Candipinggala. Rupanya sang Prabu penasaran untuk mengetahui lebih jauh, binatang apa yg sangat tangguh itu yang telah membuat pasukan anjing hutan dibawah pimpinan Sambhada itu dapat dibuat kocar-kacir.  Maka datanglah Sang Prabhu ke tempat yang ditunjukkan oleh Sambada. Sang Prabhu melihat betapa besarnya tubuh binatang itu. Maka, sang Prabhupun berusaha untuk bertanay dengan sopan, siapakah gerangan yang tengah berada dihadapan beliau. "Ya,tuan yang gagah perkasa. Siapakah gerangan tuan ini, hendak kemanakah tuan?" Tanya Sang Prabhu. Mendengar pertanyaan sang Prabhu yang lem,ah lembut, dengan sangat perlahan dan sangat ber-hati2. Si nandaka menjawab. "Wahai Tuan, nampaknya tuan sangat ingin mengatahu keberadaan hamba. Hamba bernama Lembu Nandaka. Hamba Putra Bhatara Guru. Kedatangan hamba ketengah hutan ini, adalah dalam rangka untuk menjalankan "tapa brata". Hamba sorang Brhamana". Demikianlah jawab sang Nandaka.

Mendapatkan jawaban Sang Nandaka, sang Prabhu lalu memperkenalkan dirinya, seraya memohon agar sang Brahmana sudi mengangkat dirinya sebagai muridnya.

Demikianlah, singkat cerita, sang Prabhu Adhi Prabhu Candipinggala akhirnya menjadi murid si lembu Nandaka. Demikian juga dengan para anjing2 abdi sang Prabhu.

Menjadi murid Nandaka, para hewan yang tadinya adalah pemakan daging, diajarkan untuk memakan tumbuh2an. Masing2 teguh menjalankan tapa brata yoga dan samadi menganut ajaran untuk memakan makanan vegetarian.

Demikanlah kisah  Bhagawan Dharmaswami dengan si Lembu Nandaka yang mengngatkan kita, betapa kekayaan dapat membuat kita tersesat jalan menuju tujuan hidup kesempurnaan, seperti yang terjadi dengan Bhagawan Dharmaswami.

Begitulah perjalanan spiritual. Ketika jalan panjang telah ditempuh, kita akan menjadi semakin dekat hanya kepada Tuhan, ditengah jalan, kita akan menemui godaan2. Jika kita tidak selalu eling dan waspada, kita dapat terjerumus kepada jurang kenistaan. Pada akhirnya kita akan menjadi budaknya harta benda dan kekayaan.
Cerita ini memberi ingatan kepada para penekun spiritual agar senantiasa teguh menjalankan Tapa Bharata yoga samadi, dengan tak pernah berhenti untuk mengingat Tuhan dan senantiasa berdoa agar Tuhan memberkati hati kita agar senantiasa bersih, sehingga dari hati akan terpancar kecemerlangan yang dapat mengantarkan kita kepada Tujuan Hidup Yang Sebenarnya yaitu Kebebasan tanpa ikatan.

Nah, mungkin kita perlu ingatkan diri kita, bahwa kita adalah manusia. Semua manusia bahkan semua mahluk adalah penekun spiritual. Bicara spiritual, kita senantiasa harus berpegang pada kesadaran. Kesadaran tertinggi konon adalah kesadaran "atman".  
Semoga kita semua dapat menempuh jalan kesadaran! Hanya dengan demikian dunia yang aman tenteram dan damai akan terwujud.