Sabtu, 06 Juni 2015

Mulai Menapaki Bangku Sekolah.

Anak2 dan cucu kita kini, memulai menapaki bangku sekolah sejak mereka berada pada dini usia. Namun, saya dan teman2  sebaya , lebih2 yang bertempat tinggal di pedesaan, tidak mengenal bangku sekolah ketika kita masih berada pada usia dini (sekitar umur 5 tahun ke bawah).
Itulah salah satu kemajuan yang kini kita rasakan bersama dan sangat membanggakan. Pendidikan usia dini diyakini  sangat penting. Sehingga, dimana-mana dibangun sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tidak terkecuali di desa2 yang jauh terpencilpun, diusahakan adanya sekolah2 untuk anak-anak Usia dini, yang dikenal dengan istilah "Play Group", yang akan dilanjutkan ke sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Di Bali, balai banjar sebagai prasarana dilengkapi dengan sarana bermain anak2 untuk memnuhi persyaratan bagi pendidikan anak usia dini (PAUD). Begitulah sekarang ini hak anak untuk memperoleh penbdidikan sudah terpenuhi sejak usia dini.


Saya mulai menapaki bangku sekolah setelah saya berusia enam tahun. Saya memulainya di tingkat Sekolah Dasar (SD) . Sebelumnya Sekolah Dasar  disebut Sekolah Rakyat (SR).
Memasuki Sekolah Dasar itulah saya diperkenalkan huruf dan angka oleh guru sekolah saya.
Saya masih mengingatnya ketika pertama kali saya diperkenalkan dengan angka nol (()). Kami sekelas menulis angka nol berjejer di tempat menulis kami ketika itu. Kami tak mengenal buku tulis pada awalnya. Kami menulis di alat menulis yang bernama "batu tulis". Mungkin kini batu tulis sudah punah dan lenyap dari peredaran. Setelah angka nol dilanjutkan belajar angka sampai sembilan dan seterusnya. Sesudah itu kami mulai belajar menghitung.

Belajar huruf, kami pertama kali diperkenalkan huruf "a,i,u,e,o". Bacaan pertama yang berbahasa Indonesia adalah "Bola". Selain itu ada juga buku bacaan yang berbahasa Bali. Kami menyebutnya "Buku nini". Deisebut buku nini karena kami pertama belajar membaca adalah membaca kata "nini".
Huruf di eaja : n-i n-i menjadi nini. Seperti itulah kami pertama kali belajar membaca. Pelajaran membaca dan menulis serta berhitung sangat menyenangkan. Begitulah kami memulai menapaki bangku sekolah. Perlahan-lahan belajar angka, berhitung, huruf dan membaca serta menulis, akhirnya kami dapat melanjutkan pelajaran demi pelajaran berikutnya, sehingga kamipun naik ke kelas berikutnya yaitu dari kelas satu lanjut ke kelas dua, kelas tiga dan seterusnya setelah kelas enam kami diikutkan semuanya ujian kelas enam. Pada waktu itu, tidak harus semua murid kelas enam lulus ujian. Sebab, meskipun tidak lulus ujian teman kita itu dapat melanjutkan sekolahnya kejenjang berikutnya yaitu tingkat "Sekolah Menengah Pertama (SMP)". Hanya saja mereka yang tidak lulus ujian, hanya diterima di beberapa sekolah swasta. Meskipun demikian, banyak diantara mereka itu bisa melanjutkan sekolahnya sampai sarjana.

Begitulah "kertas putih" mulai tergores yang kini entah sudah berapa goresan tulisan tertoreh pada kami yang konon pada mulanya berupa kertas putih kosong. Goresan-goresan itu kami dapatkan di sekolah oleh para guru kami, yang sebelumnya kertas putih itu tergores sendiri di lingkungan group bermain kami di desa, tanpa mengenal Play Group maupun Taman Kanak-Kanak.

Anak adalah "kertas putih" kosong yang siap untuk ditulisi. Tulisan itu akan dapat menentukan isi anak yang berupa kertas putih kosong itu. Siapa yang mengisi dan apa yang tergores di kertas putih itu, akan menentukan bentuk dan karakter anak kita. Itulah keyakinan dan "mind set" yang telah tertanam sejak lama pada masyarakat dunia pendidikan.

Belakangan teori kertas putih ini nampaknya terbantahkan. Sebab, jika anak diidentikkan kertas putih, mestinya kertas yg ditulis oleh orang yg sama dengan tulisan yang sama pula mestinya hasilnya akan sama. Tetapi, kenapa masing2 anak keluar dari sekolah yang sama mengalami keadaan yang berbeda?

Disini teori kertas putih itu terbantahkan oleh adanya  keyakinan  bahwa setiap anak sudah membawa samskaar, vasana. Hal ini mungkin bisa disebutkan sebagai bawaan lahir. Mind & Hardware Brainnya, adalah spesifik merupakan miliknya sendiri . Sehingga haruslah  di terima kalau masing-masing anak memiliki hal "positif" & "negatif" yang nyata-nyata memang berbeda satu anak dengan anak lainnya.
Anak didik, terutama usia PAUD s.d. SD, kebanyakan belum memahami hal ini. Sehingga belum mampu secara sadar untuk merubah segala hal "positif" & "negatif". Padahal untuk itu di perlukan suasana & triggers khusus, yaitu yang disebut  Attentive, Meditativess.

Menurut pandangan ini, Mind & Brain dapat di ubah secara dini dengan suasana meditatif yang sengaja di ciptakan, oleh Orang Tua, dimana Orang Tua mesti menyadari hal ini. Apa niatnya "membuat" anak? Setelah lahir, mau di apakan si anak? Mengerti tidak "positif" & "negatif" bawaan anak?
Lalu, berdasar hal tersebut, orangtua mau mendidik seperti apa? Mau membagi sebagian beban tsb ke Guru & Sekolah yang seperti apa?
Orangtua yang tidak mau tahu hal-hal selain si anak mesti dapat ranking, menjadi anak yang kaya raya secara materi (saja), sudah dapat di tebak bagaimana mereka mendidik anak, & Guru-Sekolah seperti apa yang mesti di pilihnya.

Oleh Guru & Sekolah juga dapat merubah Mind & Brain .
Hendaknya orangtua  mau dengan "sukarela" sharing time & energy dengan Guru & Sekolah untuk men Transformasi anaknya "menjadi" seperti yang mereka pahami.
Guru mesti memahami ini. Ia mesti bisa memperlakukan anak didiknya minimal sesuai ekspektasi orangtua, atau dengan kata lain menjadikan anak didiknya seperti anak sendiri, bahkan idealnya, lebih.

Sekolah,  tempat di mana Guru mendidik, tentu mesti sinkron, matching dengan maksud Guru & Orangtua.
Mungkinkah Sekolah dapat dibuat seperti sebuah Ashram dengan Kepala Sekolah nya sebagai leader of Ashram?
Untuk itu, Guru & Sekolah mesti tidak di bebani & terbebani dengan ongkos2 materi untuk menjalankan hal ini. Full perhatian mereka to create suasana kondusif, Attentive-Meditativeness, yang mampu men Transform Mind & Brain anak didiknya ke arah Kemuliaan. Dengan kesadaran penuh bahwa dengan karakter mulia, anak didik couls find his/her own way to happiness or even more than that. Demikian pandangan yang ada dan mungkin berbeda dengan pandangan dimana anak adalah "kertas putih yang kosong" tadi.

Demikianlah, mesti dijawab siapa yang harus membantu hal ini, supaya Guru-Sekolah tidak memikirkan hal lain? Untuk itu so pasti yang harus membantu hal ini adalah  "Masyarakat & Pemerintah."

Kembali kepada cerita perjalanan saya menapaki bangku Sekolah Dasar. Setelah menempuh pelajaran sampai kelas VI (kelas enam), kami ujian. Pada waktu itu, dari 18 (delapanbelas) anak, yang lulus ujian hanya 4(empat) orang. Bayangkan kalau itu terjadi pada anak2 kita sekarang. Orang tua atau masyarakat pastilah akan ribut. Ribut untuk saling menyalahkan. Ribut untuk mencari kambing hitam penyebab rendahnya kuantitas kelulusan. Tapi, pada waktu itu kita biasa-biasa saja. yang lulus boleh mendaftar kesekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri. Yang tidak lulus ke sekolah swasta.  No problem. Karena buktinya, banyak diantara teman-teman yang tadinya tidak lulus di SD tapi, bisa melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya dan pada waktunya mereka juga bisa samapai Sarjana. Bahkan, salah seorang dari teman kami berhasil menyandang gelar Doktor (S3) dan menjadi dosen yang disegani ditempat dimana dia mengajar.

Meskipun demikian, tentu tidak berarti sistim yang sudah lama itu adalah sistim yang baik, sehingga ada pemikiran kembali kepada cara lama. Sama sekali bukan begitu maksudnya. Saya tetap yakin, bahwa semakin lama sistim itu berubah kearah yang lebih baik dan lebih maju. Yang terpenting, barangkali semua kita berharap bahwa aoutput dari pendidikan tidak hanya membuat kita itu pintar berteori. Tetapi jika kita kaya akan berbagai teori dan berbagai ilmu pengetahuan, hendaknya dapat diterapkan guna meningkatkan kualitas hidup kita. Semoga, semakin kedepan kita akan menjadi semakin maju.

Nah sekarang mari kita bayangkan jika 2 hal di atas kita ubah sedikit settingnya?
Ada anak dari lahirnya terlihat sudah suka menyiksa binatang, merusak mainan, mem bully teman-temannya.
Lantas, orangtuanya  ingin anaknya menjadi "pembela agamanya" & menjadi "kurir surga" bagi ortuanya. maka, guruu & Sekolah  yang di cari sudah bisa "di tebak." Suasana yang di ciptakan Guru & Sekolah bisa jadi  justru semakin memperkuat kecederungan si anak dengan embel-embel "yang boleh di rusak adalah yang tidak se agama." Segala macam "doa" di sekolah di arahkan untuk hal ini.
Jika ada yang demikian, maka  harus ada yang  memutus mata rantai ini? siapa dia? so pasti "masyarakat & Pemerintah."

Tidak hanya memberi materi saja tapi memastikan tiap-tiap Sekolah yang ada adalah berdasarkan Akar Budaya yang mulia, bukan "akar agama yang di anggap mulia."
Jadi memang menjadi tugas Masyarakat & Pemerintah untuk menggali, punyakah kita akar budaya yang mulia & adiluhung? Pernahkah kita sangat maju peradabannya? Kalau iya, mengapa pernah maju & mengapa kemudian merosot?
Ini Utopia?  Jika sebagian besar masyarakat, & pemerintah masa bodo dengan hal ini, kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap Akar budaya dan peradaban maju bangsa ini, bisa bersinergi dengan kelompok Guru-Sekolah  yang masih sinkron, align.
Kata orang kalau mau selalu ada jalan.

Tanpa karakter yang mulia, lupakan Kebahagiaan.
Jika kita beranggapan cuma uang tujuan hidup ini, ajarkan saja cara mencuri yang legal di mata hukum. Pintar ngeles sehabis mencuri. Maka sukseslah hidup untuk mendapatkan uang banyak. Tetapi, coba bayangkan betapa terganggunya ketenteraman dan ketertiban. Betapa hidup menjadi semakin jauh dari Bahagia. Ini Artinya, jika surga nan penuh kenikmatan materi yang menjadi tujuan, cari saja Guru-Sekolah yang sesuai di negara yang kita anggap memenuhi kriteria itu.

Nah, kini marilah kembali kepada pembicaraan awal dimana saya mulai menapaki bangku sekolah di SD. Di SD kita banyak dibentuk oleh para guru-guru SD kami yang sangat berjasa kepada kami. Beliau telah meletakkan dasar untukkami dapat metapaki pendidikan formal lebih lanjut. Beliau yang mengantarkan kami untuk dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hormat selalu kepada Bapak2/Ibu2 guru dan Terimakasih tak terhingga. Semoga senantiasa sehat dan Sejahtera!

Rabu, 29 April 2015

Dongeng Sebelum Tidur

Menurut para akhlinya mengatakan bahwa dongeng adalah salah satu cara untuk membangun karakter anak sejak usia dini.
Ternyata, ketika usia PlayGroup saya, sekitar tahun 1950-an-1960-an, saya  memang mendapatkan dongeng setiap malam menjelang tidur.
Yang mendongengkan saya setiap malam sebelum tidur adalah seorang pendongeng idola saya.

Paman Sang Pendongeng idola.
Paman ,sayang kepada saya dan semua keponakannya. Biasanya, kami menginap di tempat paman bersama dua orang sepepu saya yang sebaya. Ketika bercerita, wawasan paman yang cukup luas biasanya menjadikan  ramuan ceritanya untuk lebih mengapresiasi dongengan. Yang jelas, paman juga pintar menyesuaikan ramuan cerita dengan selera anak2 yang seusia Play Group. Keakhlian paman mendongeng disebabkan karena paman punya Hobby membaca. Salah satu bacaannya ketika itu adalah surat kabar harian yang terbit ketika itu yaitu "Suluh Indonesia".Selain itu,  juga ada langganan majalah yang bernama "Sket Masa". Koran Suluh Indonesia belakangan berubah namanya menjadi "Suluh Marhaen" yang kini menjadi cikal bakal harian "Bali Post",  kini cukup manyak oplahnya setiap hari di Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan majalah Sket Masa, adalah majalah politik ketika itu. Setelah saya disekolahkan di Sekolah Dasar dan saya mulai dapat membaca saya suka membaca majalah Sket Masa. Sket Masa waktu itu berisikan artikel tentang perpolitikan di era itu dan juga banyak berisi sanjungan-sanjungan terhadap kebijaksanaan Presiden Soekarno ketika itu. Tidak itu saja, paman juga gemar membaca buku. Buku kekawin Mahabharata dan Ramayana adalah dua judul selain dari banyak buku2 yg menjadi bacaan paman.

Ada dongeng yang sampai kini masih membekas di hati yaitu "Kisah Bhagawan Dharmaswami".

Tersebut seorang pandita bernama Bhagawan DharmaSwami. Dia adalah seorang pendeta yang miskin. Tetapi sang Bhagawan sangat teguh melakukan tapa brata (pengendalian perilaku). Setiap pagi tak pernah luput melakukan Surya Sevana ( memuja matahari di pagi hari).

Oh, Dewa Surya yang pemurah, konon selalu mencatat keteguhan hati sang pandita. Hingga suatu hari dari langit terdengan suara............

Bagaimana suara dari langit? Pertanyaan ini muncul dibenak, ketika paman mengatakan dari langit terdengar suara. Tapi, paman tak langsung mengatakan bagaimana suara dari langit itu. Paman diam sejenak, tiba2 terdengan suara "bruuut"...! Eh, paman kentut! Itulah yang barang kali contoh buruk yang dilakukan oleh seorang pendongeng idolaku kepada anak usia Play Group waktu itu. Kami tengah  asyik untuk mencari tahu suara dari langit, paman malah mengeluarkan suara yang tidak sopan dari pantatnya. Tapi, mungkin juga itu dilakukan demi kesehatan. Karena ketika ada angin yang mendorong-dorong hendak keluar dari dalam perut, tidak segera dikeluarkan, bisa dibayangkan perut akan sakit. Kamipun tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Tak apalah, yang penting cerita dilanjutkan.

Suara dari langit mengatakan : "hai pandita yang teguh hati, kuberi engkau seekor lembu"...
Ketika itu, saya terhenyak dan terus menengadahkan kepala keatas langit-langit rumah. Fikiran bertanya-tanya, bagaimana seekor lembu diberikan kepada sang pendita miskin itu. Apakah seekor lembu dijatuhkan begitu saja dari langit? Bayangan saya, jika seekor lembu dijatuhkan begitu saja dari langit, kalau menimpa sang pendita, bagaimana jadinya. Mungkin sang pendita bisa pingsan, bahkan mungkin bisa mati tertimpa seekor lembu yang jatuh dari langit. Atau, mungkin sang lembu babak belur dan mati jika dijatuhkan dari langit. Itulah, fikiran sudah mulai berkembang. Segala sesuatu dipertanyakan dan tak henti untuk bertanya.

Tidak. Seekor lembu tak dijatuhkan dari langit. Tetapi, seekor lembu begitu saja muncul dihadapan sang pandita. Duh, senangnya sang pandita kini memiliki seekor lembu yang merupakan hadiah dari dewa Surya yang pemurah. Lembu ini tentu akan menjadi peliharaan sang pandita dan akan memberikan penghasilan bagi sang pandita yang miskin itu. Saya semakin tertarik dan senang mendengar, karena sang pandita yang miskin kini mendapat bantuan seekor lembu dari dewa Surya. Tak ubahnya di jaman pembangunan Indonesia sekarang ini. Orang miskin mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada juga orang miskin mendapatkan bantuan bedah rumah. Para peternak yang tergolong miskin juga sering mendapat bantuan ternak. Mulai dari bantuan ternak itik, ayam, kambing, babi dan bahkan ada bantuan ternak sapi, seperti bantuan yang didapat Bhagawan Dharmaswami. Sedikit disayangkan, bantuan2 pemerintah yang berkelimpahan dari berbagai dinas dan instansi yang membidangi ternyata banyak yang tak sesuai sasaran dan banyak yang melenceng dari tujuan dan cita2 meningkatkan kesejahteraan rakyat secara permanen. Ini mungkin karena kendornya sistim pengendalian dan pengawasan. Semoga, semakin kedepan para aparat yang membidangi pengendalian dan pengawasan semakin kuat, sehingga tujuan dan cita2 kesejahteraan secara permanen dapat terwujud.

Apa gerangan yang akan dilakukan sang pandita se-hari2 dengan seekor lembu itu?
Lembu itu berkelamin jantan berwarna hitam legam dan kulitnya sangat berminyak. Juga sangat gemuk diberi nama "Nandaka."

Di leher Nandaka terdapat lemak yang berlipat2 yang disebut punuk sebagai pertanda kegemukan seekor lembu.
Bhagawan Dharmaswami  mulai berfikir untuk memelihara dan merawat si Nandaka. Mengembalakannya dan memberi makan. Dan yang terpenting, si Nandaka dapat membantunya untuk mendapatkan penghasilan.

Dari keinginan untuk mendapatkan penghasilan,...mucul fikiran sang pandita untuk menjadikan si Nandaka sebagai lembu pengangkut kayu bakar untuk dijual di pasar. Sungguh ini fikiran yang sangat kreatif dan inovatif.

Maka, mulai saat itu sang Pandita setiap hari membawa kayu bakar kepasar yang diangkut oleh si Nandaka. Nandaka sangat kuat untuk mengangkut banyak beban. Se-hari2 kerja sang pandita dengan dibantu si Nandaka adalah sebagai pencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Barangkali karena kemurahan sang dewata, setiap hari kayu bakar yang diangkut oleh lembu Nandaka habis terjual. Semakin lama sang Pandita semakin banyak uangnya. Uang itu, kembali dibelikan lembu, sehingga kini sang pandita memiliki dagangan kayu bakar yang sangat besar dan sangat laris. Begitulah tak berapa lama sang pandita Bhagawan Dharmaswami menjadi semakin kaya .

Kini sang pandita tidak sekedar pedagang kayu bakar yang tergolong kecil, tapi kini telah berubah menjadi saudagar besar. 

Nandaka yang tadinya hanya sendirian, kini  telah memiliki banyak kawan lembu2 lain yang dibeli oleh sang pandita dari hasil berjualan kayu bakar. Dan lembu2 itupun beranak pinak. Bahkan kini sang pendita telah mampu membeli tunggangan yang mewah di jaman itu yaitu seekor kuda. Dengan seekor kuda sang pandita dapat bergerak dengan lebih lincah dan cepat. Demikianlah sang pandita melakukan kontrol terhadap lembu2 dan pengantar lembu yang menjadi karyawan sang pandita. Kini sang pendita tidak hanya menjual kayu bakar, tapi juga menjual barang2 kebutuhan lainnya dan semua dagangannya laku keras.

Begitulah ceritanya, sengat mudah  Bhagawan Dharmaswami menjadi pandita yang kaya raya dengan harta benda yang melimpah.
Begitu juga halnya, kesadaran hati nurani tinggi, kini berubah menjadi kesadaran otak yang selalu berfikiran bagaimana caranya mencari untung yang sebesar-besarnya. Tentu dengan memanfaatkan kemampuan uang dan harta bendanya yang  melimpah. Selain itu, kini Bhagawan Dharmaswami nampak semakin keras mempekerjakan lembu2 dan karyawannya. Termasuk si Nandaka yang menemani dan telah membantu sang Bhagawan sejak ketika masih miskin dahulu. Nandaka merasa bahwa tiada balas jasa yang setimpal atas beban berat yang selalu dipikulnya untuk memperkaya sang Bhagawan yang kini telah lupa daratan.Semakin hari tubuhnya menjadi semakin kurus, akibat beratnya beban kerja yang ditimpakan sang Bhagawan kepadanya.

Diceritakan kini, pada suatu hari Bhagawan Dharmaswami hendak berjualan memperluas jangkauan pasarnya  ke pasar ibu kota.
Untuk menuju pasar ibu kota, harus melewati hutan belantara yang sangat angker dan lebat, bernama hutan "Malawa."

Melewati hutan Malawa, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya. Baik persiapan fisik, mental perbekalan yang cukup untuk bisa sampai dengan selamat menempuh perjalanan melewati hutan Malawa.Selain hutannya sangat angker, disana dihuni banyak binatang buas dan tempat persembunyuian para "begal".

Karena tak lagi hanya berjualan kayu bakar, tapi ia juga menjual berbagai barang yang tak tertandingi mutunya oleh pedagang manapun. Kini tidaklah cukup punggung Nandaka untuk membawa semua barang dagangan sang Bhagawan ke pasar. Untuk mengangkut barang dagangannya diperlukan berpuluh-piluh pedati. Begitulah ceritanya, tak terfikirkan akal sehat, Bhagawan DharmaSwami kini menjadi saudagar yang semakin kaya raya...

Untuk berangkat ke pasar ibu kota, Bhagawan Dharmaswami harus mengajak banyak pelayan dan pengawal, kemudian menyiapkan pedati2 yang kokoh dengan roda2 yang kuat. Belum lagi harus memilih lembu2 yang tangkas dan bertenaga besar untuk menarik pedati2 dagangannya. Sungguh tak boleh main2 untuk melewati hutan Malawa. Tidak boleh lengah dan meremehkan, sebab sudah banyak nyawa melayang di hutan itu. Nyawa yang sia-sia disebabkan oleh sikap lalai dan tak waspada. Karena itu, Bhagawan Dharmaswami menyiapkan perjalanannya dengan cermat.
Rencananya ia akan memimpin rombongan dagangannya dengan berkuda agar mudah untuk bergerak kedepan dan kebelakang untuk memeriksa barisan pedati, sedangkan para pengawal akan mengapit kiri dan kanan setiap pedati dagangannya, lalu pelayan dan kusir pedati akan saling berjaga agar tak ada yang lengah dalam perjalanan itu...

Nah, singkat cerita, semua persiapan sudah cukup.
Diceritakan kini, disuatu pagi tibalah rombongan dagang itu di pinggir hutan Malawa, hutan angker yang ditakuti oleh semua orang. Begitulah rombongan itu terhenti untuk sejenak menata barisan.  Dari tengah hutan terdengar sayup-sayup suara berbagai binatang yang seakan menyambut kedatangan rombongan yang lewat. Wajah-wajah anggota rombongan Bhagawan Dharmaswami tegang, rasa takut mulai menjalari fikiran mereka. Dengan sigap Bhagawan Dharmaswami memacu kudanya, ia tak boleh lengah karena rasa takut. Rasa takut itu menular, harus segera diusir.  Hilir mudik kuda dihentak-hentak untuk memeriksa satu persatu dagangannya. Mengingatkan kepada semuanya, bahwa perjalanan melewati hutan Malawa harus dilampaui dengan cepat. "Paculah lembu-lembu itu seterusnya tanpa henti , karena sebelum matahari tenggelam, rombongan harus sudah keluar dari hutan Malawa! Makin cepat makin baik." Begitu perintah Bhagawan Dharmaswami berulang kali. Maka, rombongan itupun bergerak kencang memasuki hutan malawa. Gemuruh roda kini lenyap, digantikan oleh suara hutan yang riuh rendah, membuat bulu kuduk merinding. Suasana saat itu sungguh mencekam semua fikiran. Terkadang terdengar suara hauman harimau bersautan dengan lolongan srigala serta suara-suara burung yang merintih. Terkadang suara-suara itu terdenganr seakan mendekat, namun tak jelas arahnya dari mana, semua lurus menatap kedepan menahan rasa jerih.

Rombongan pedati terus bergerak cepat, semua kusir menghentakkan tali kekang,sesekali melecut pecutnya, kadang-kadang meneriaki lembu agar terus melangkah. Semua bertekad akan melewati hutan Malawa sebelum gelapnya malam tiba. Bhagawan Dharmaswami hilir mudik mengawasi rombongan, kemudian setelah terasa aman, ia memacu kudanya kedeepan dan memimpin rombongan, memastikan bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang akan membawa rombongan keluar dari hutan Malawa.

Akhirnya, batas hutan terlewati, semua merasa lega karena ternyata mereka dapat keluar dari hutan lebih cepat dari  batas waktu yang diperkirakan. Saat itu, matahari masih tinggi, Bhagawan Dharmaswami menghela kudanya makin jauh kedepan, mencari-cari tempat yang lapang dan aman untuk membangun perkemahan.

Tempat perkemahan telah ditemukan, sebuah tempat yang lapang dan teduh. Didekatnya ada sungai kecil tempat beristirahat yang menjanjikan keamanan. Rombongan satu persatu berhenti disitu. Para pengawal mebuat jebakan keamanan dari bambu yang diruncingkan sebagai ranjau. Ranjau2 itu dipasang mengitari perkemahan. Dengan demikian, rombongan akan terhindar dari serangan, baik binatang buas maupun para begal.

Bhagawan Dharmaswami puas hatinya melihat kesigapan para pengawalnya. Ia hendak menuju ke sungai untuk membersihkan diri . Namun langkahnya terhenti karena seorang pengawal datang dengan tergopoh-gopoh melaporkan bahwa ada satu pedati yang ditarik si Nandaka belum tiba.

Terkejut Bahgawan Dharmaswami menerima laporan salah seorang pengawal itu. Sama sekali tak disangka kalau ada pedati yang tertinggal. Dan bahkan yang tertinggal itu adalah pedati yang ditarik si lembu Nandaka, lembu hadiah dari  langit. Dengan rasa gugup dan khawatir Bhagawan Dharmaswami mengajak dua orang pengawal yang bernama I Pelet dan I Wipe segera menyusul balik ke tengah hutan. Di tengah hutan ditemukan si nandaka berjalan terseok-seok menunjukkan keletihan yang amat sangat.  Keempat kakinya bergemetaran menahan beratnya beban barang dagangan. Nafasnya memburu, mulutnya berbusa, keringatnya mengucur deras.

"Akh,.." terdengar suara rintihan si Nandaka. Dihadapan Bhagawan Dharmaswami Nandaka jatuh tersungkur. Melihat keadaan Nandaka yang setengah sekarat, Bhagawan Dharmaswami amatlah sedih. Meskipun sedih begitu, fikiran tetap tak berhenti untuk melakukan hitungan rugi dan laba.

"Oh, kamu Nandaka. Aku melihat ajalmu sudah dekat. Betapa sedihnya hatiku. Karena di tengah hutan ini kematianmu akan menjadi sia-sia. Karena ketika kamu telah mati, dagingmu akan disembelih, tapi tak ada saudagar yang mau membelimu. Jadi, betapa sia-sianya kematianmu Nandaka." Waktu paman mengungkapkan kesedihan Bhagawan Dharmaswami seperti itu,  terfikir oleh saya, betapa rakusnya Bhagawan Dharmaswami. Lembu Nandaka yang sudah lama menunjukkan pengabdiannya yang tulus, sehingga kini Bhagawan menjadi kaya raya, eh ujung-ujungnya tak tahu balas jasa orang. Malah ngomong mau jual daging si lembu Nandaka. Mestinya, Bhagawan Dharmaswami mencarikan obat untuk Nandaka. "Dasar pandita serakah." Demikian fikirku.

Demikianlah, singkat cerita Bhagawan Dharmaswami bergegas meninggalkan Nandaka, sementara dua orang pengawal I Pelet dan I Wipe ditugaskan untuk menunggu si Nandaka, dengan perintah jika Nandaka telah menemui ajalnya maka tubuhnya dibakar saja.

Setelah ditinggal Bhagawan Dharmaswami, I Pelet dan I Wipe, sama-sama saling berpandangan karena masing-masing berfikir dengan keras untuk mencari upaya apa yang hendak dilakukan untuk melaksanakan perintah Bhagawan Dharmaswami itu.
I Pelet merasakan gemetar dada yang ketakutan. Karena dia teringat bahwa kini dia tengah ditinggal hanya berdua ditengah hutan Malawa yang terkenal angker dan sangat berbahaya. Demikian juga dengan I Wipe yang dengan suara perlahan dan gigi bergemetar menahan takut ia mulai bersuara:"Baiknya kita segera tinggalkan si Nandaka disini, kalau tidak kita bisa berbahaya. Ini hutan Malawa, salah-salah kita bisa dimakan binatang buas, atau kena begal dan di bunuh di sini." I Pelet menyembunyikan rasa takutnya dengan mengajukan idenya. "Ya, begini caranya. Kita kumpulkan kayu bakar yang banyak. Kemudia kita letakkan melingkar dari tubuh nandaka. Kita bakar di ujung kayu bakar, lama2 api akan mendekat dan sampai ke tubuh Nandaka dan akhirnya akan membakar tubuhnya setelah dia menghembuskan nafasnya nanti." "Betul juga . Kalau kita bakar si Nandaka hidup-hidup, kita akan berdosa, karena tak boleh kita melakukan membakar orang hidup-hidup." Demikian I Wipe menimpali. Tak lama kayu bakarpun terkumpul, dan mereka mulai membakar diujung kayu bakar, asappun mulai membubung tinggi, pertanda api mulai membesar. Merekapun meninggalkan Nandaka sendirian dalam keadaan sekarat, dengan keyakinan bahwa Nandaka akan terbakar setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tiba di perkemahan, I Pelet dan I Wipe melaporkan kepada Bhagawan Dharmaswami bahwa Nandaka telah mati dan tubuhnya telah dibakar, sesuai perintah Bhagawan. Menerima laporan itu, Bhagawan Dharmaswami amatlah bersedih hati, sembari dg tetesan airmatanya ia berucap, "oh kau lembu Nandaka. Betapa malang nasibmu. Engkau harus meninggal di hutan Malawa. Yang lebih menyedihkan, kau meninggal dalam kesia-siaan. Karena dagingmu tak ada yang membeli. Seandainya kau meninggal di rumah. Tentulah dagingmu akan dapat dijual mahal. Dan aku akan dapat keuntungan besar dari menjual dagingmu itu. Sungguh, aku menyesali kepergianmu. Menyesali kematianmu yang sia-sia itu."

Begitulah brahmana yang bernama Bhagawan Dharmaswami. Ketika masih miskin, ia menjalankan tapa brata yoga semadi dengan benar. Menjalankan laku hidup sesuai dengan sasana kebrahmanan. Penuh cinta dan kasih. Kini, kekayaan yang melimpah ruah telah membuat Bhagawan Dharmaswami gelap mata dan gelap fikiran. Nuraninya yang dulu jernih, kini keruh oleh nafsu keserakahan, untuk mengumpulkan kekayaan yang sebesar-besarnya. Dia telah melupakan pembersihan hatinya. Dia telah melupakan cinta dan kasih sayangnya. Yang dia ingat hanya pundi-pundi uang yang terkumpul kian menggunung. Yang dia banggakan kini adalah kekayaan yang berlimpah ruah. Kematian nandaka dilihatnya sebagai kematian yang sia-sia, karena kematiannya tak menghasilkan sepeserpun uang untuk kekayaan Bhagawan Dharmaswami. Dia bersedih bukan karena mengasihi. Dia bersedih karena tak dapat tambahan uang dari menjual daging Nandaka yang telah berjasa sejak Bhagawan masih miskin. Betul-betul sang Bahgawan kini lupa daratan. Begitulah, kekayaan dapat membuat kita lupa tujuan kasih sayang. Siapapun dapat lupa. Tak terkecuali Bhagawan sang Brahmanapun dapat menjadi lupa oleh keasyikan mengumpulkan kekayaan.

Konon, Seorang brahmana yang tugas utamanya mempelajari dan mengajarkan ajaran-ajaran kerohanian, jika lupa akan sloka-sloka yang tertulis di pustaka-pustaka suci, dia bisa membacanya kembali. Tetapi jika dia mengabaikan perilaku yang benar, sesungguhnya dia telah kehilangan kebrahmanaannya. Secara umum hal ini memberi implikasi bahwa perilaku yang benar lebih penting daripada sekadar menghafal sloka-sloka dari pustaka suci. Tidak ada gunanya ribuan sloka suci memenuhi kepala kita jika itu tidak mampu mendorong kita untuk mempraktikkan perilaku yang benar. Itulah yang sering terjadi pada kita. Kita menghapal ayat-ayat kitab suci. Kita mendapat gelar tokoh agama. Kita dihormati karena status tokoh dalam agama yg kita anut. Tapi, sedikitpun tak pernah mampu mengamalkan makna dari ayat-ayat kitab suci tersebut. Maka ribuan ayat kitab suci menjadi tak berguna, karena tak mampu memperbaiki hidup dan kehidupan bersama kita.

Demikianlah, kini kita kembali kepada si lembu Nandaka........
Diceritakan di tengah hutan Malawa. Saat asap tebal membubung tinggi menutup pandangan, Nandaka yang hanya pura-pura sekarat segera bergegas bangkit. Ia menggeram-geram dan menghentak-hentakkan kakinya, pertanda bahwa ia masih tetap kuat dan sehat walafiat.
Selangkah demi selanggkah kakinya melangkah, menyusuri hutan Malawa yang rimbun, dengan berbagai rerumputan dedaunan segar, kini menjadi makanan Nandaka. Setelah beberapa hari, tubuhnya menjadi semakin segar dan kuat.

Singkat cerita, diceritakan perjalanan si lembu Nandaka ditengah hutan Malawa. Bertemu dengan kawanan anjing pemburu yg merupakan antek2 raja hutan bernama  Shri Singha Adiprabhu Candapinggala. Adalah seekor Singa penguasa hutan Malawa yang terkenal buas dan angker.

Anjing2 itu dipimpin oleh seorang Mahapatih anjing bernama "Sembada". Ia terkenal sebagai seorang patih yg licik. Dibawah patih Sembada adalah dua ekor anjing yg bernama "I Nohan dan I Tatit". Kedua ekor anjing ini suka mencabik2 mangsanya.

Begitulah, kawanan anjing dibawah pimpinan Sambada, menjadikan si Lembu Nandaka kini sebagai sasaran buruan, yg dagingnya akan dipersembahkan kepada sang Raja Singha Adhi Prabhu Candipinggala. Ditengah pertempuran yang sengit dimana si Nandaka dikeroyok kawanan anjing beramai-ramai. Apa yang terjadi? Nandaka dengan sigap memainkan jurus2nya. Ia menendang dan menanduk, hingga satu persatu anjing2 itupun terpental dan banyak diantaranya mengeluarkan darah segar. Merekapun ketakutan dan akhirnya melihat pasukannya telah kocar-kacir, maka patih Sembada memberi komando agar pasukan mundur dan melarikan diri.

Setelah kawanan anjing hutan dibawah pimpinan Mahapatih Sembada harus pulang dengan tangan hampa, bahkan banyak diantaranya yang terluka parah.
Sesmapai di istana, patih sembada, menghadap raja dan menyampaiakan kalau perburuan yg dipimpinnya  kali ini tak membuahkan hasil. Hal ini disebabkan karena ditengah hutan pasukan bertemu dengan binatang aneh. Binatang itu bertubuh besar dan gemuk, serta dikepalanya terdapat dua buah tanduk yang tajam dan runcing. "Kawanan kami para anjing2 abdi tuanku raja tak mampu menghadapi binatang yang bertubuh besar serta bertanduk. Untuk itu, maafkan kami baginda raja."

Demikianlah, Nandaka yang malang telah berhasil mengalahkan para anjing2 pemburu yang merupakan abdi  Singa yang bernama Adhi Parabhu Candipinggala. Rupanya sang Prabu penasaran untuk mengetahui lebih jauh, binatang apa yg sangat tangguh itu yang telah membuat pasukan anjing hutan dibawah pimpinan Sambhada itu dapat dibuat kocar-kacir.  Maka datanglah Sang Prabhu ke tempat yang ditunjukkan oleh Sambada. Sang Prabhu melihat betapa besarnya tubuh binatang itu. Maka, sang Prabhupun berusaha untuk bertanay dengan sopan, siapakah gerangan yang tengah berada dihadapan beliau. "Ya,tuan yang gagah perkasa. Siapakah gerangan tuan ini, hendak kemanakah tuan?" Tanya Sang Prabhu. Mendengar pertanyaan sang Prabhu yang lem,ah lembut, dengan sangat perlahan dan sangat ber-hati2. Si nandaka menjawab. "Wahai Tuan, nampaknya tuan sangat ingin mengatahu keberadaan hamba. Hamba bernama Lembu Nandaka. Hamba Putra Bhatara Guru. Kedatangan hamba ketengah hutan ini, adalah dalam rangka untuk menjalankan "tapa brata". Hamba sorang Brhamana". Demikianlah jawab sang Nandaka.

Mendapatkan jawaban Sang Nandaka, sang Prabhu lalu memperkenalkan dirinya, seraya memohon agar sang Brahmana sudi mengangkat dirinya sebagai muridnya.

Demikianlah, singkat cerita, sang Prabhu Adhi Prabhu Candipinggala akhirnya menjadi murid si lembu Nandaka. Demikian juga dengan para anjing2 abdi sang Prabhu.

Menjadi murid Nandaka, para hewan yang tadinya adalah pemakan daging, diajarkan untuk memakan tumbuh2an. Masing2 teguh menjalankan tapa brata yoga dan samadi menganut ajaran untuk memakan makanan vegetarian.

Demikanlah kisah  Bhagawan Dharmaswami dengan si Lembu Nandaka yang mengngatkan kita, betapa kekayaan dapat membuat kita tersesat jalan menuju tujuan hidup kesempurnaan, seperti yang terjadi dengan Bhagawan Dharmaswami.

Begitulah perjalanan spiritual. Ketika jalan panjang telah ditempuh, kita akan menjadi semakin dekat hanya kepada Tuhan, ditengah jalan, kita akan menemui godaan2. Jika kita tidak selalu eling dan waspada, kita dapat terjerumus kepada jurang kenistaan. Pada akhirnya kita akan menjadi budaknya harta benda dan kekayaan.
Cerita ini memberi ingatan kepada para penekun spiritual agar senantiasa teguh menjalankan Tapa Bharata yoga samadi, dengan tak pernah berhenti untuk mengingat Tuhan dan senantiasa berdoa agar Tuhan memberkati hati kita agar senantiasa bersih, sehingga dari hati akan terpancar kecemerlangan yang dapat mengantarkan kita kepada Tujuan Hidup Yang Sebenarnya yaitu Kebebasan tanpa ikatan.

Nah, mungkin kita perlu ingatkan diri kita, bahwa kita adalah manusia. Semua manusia bahkan semua mahluk adalah penekun spiritual. Bicara spiritual, kita senantiasa harus berpegang pada kesadaran. Kesadaran tertinggi konon adalah kesadaran "atman".  
Semoga kita semua dapat menempuh jalan kesadaran! Hanya dengan demikian dunia yang aman tenteram dan damai akan terwujud.



 

Sabtu, 30 Agustus 2014

Nyanyian Syarat Makna!

Di usia Play Group, meskipun tidak sekolah saya dan teman2 "Kelompok Bermain"  sering nyanyi bersama. Lagu anak2 itu ternyata syarat makna, yang saya ketahui maknanya setelah saya berusia dewasa dan telah banyak belajar dalam hidup yang panjang ini. Salah satu lagu itu adalah berlirik seperti berikut ini:

Eda Ngaden Awak Bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luhu
Ilang luhu buke katah
Wyadin ririh,...
Enu liu pelajahin.

Lagu itu berbahasa Bali, waktu itu dinyanyikan tanpa penjiwaan. Kami hanya menghapalkannya.
Tapi, hapalannya melekat sampai saat ini. Saat kami mulai mengetahui ini,  kami merasakan betapa kami telah mendapatkan anugrah  Tuhan yang berkelimpahan, sehingga kita dapat mengarungi hidup sampai usia sekarang ini. Kami telah mulai dapat mensyukuri hidup dan semua yang kita dapat dan peroleh sampai saat ini.
Terimakasih Tuhan, atas bekatMu yang berkelimpahan kepada kami setiap saat!

Lebih jauh, jika lagu diatas diapresiasi kira2 maknanya sebagai berikut :

Menjadi orang, janganlah sombong,  gede rasa, merasa diri paling pintar.
Mestinya, biarkanlah orang2 lain yang akan menilai dan mengatakannya.
Karena, ibaratnya pekerjaan menyapu dengan sapu,...........
Tak pernah sampah itu habis meski terus disapu.
Sebab, jika sampah2 habis tersapu, masih ada lagi debu2 yang akan selalu tumbuh dan bertumbuh.
Oleh karena itu, seberapapun pintarnya kita, maka pelajaran demi pelajaran tak akan habis dan selalu masih banyak yang mesti kita pelajari.

Nampaknya dengan mengajarkan lagu ini tetua kita ingin berisyarat agar kita mengarungi hidup ini dengan selalu belajar  dan tak mudah menyombongkan diri dengan kepintaran.

Lagu lain yang juga sangat populer dikalangan anak2 usia Play Group dijaman saya adalah lagu "Meong-Meong."
Lagu Meong-Meong, dinyanyikan bersamaan dengan suatu permaianan Meong (Kucing) dan Tikus (bikul). Permaianan ini dilakukan dengan satu kelompok yang tak terbatas jumlahnya. Semua anggota kelompok membentuk lingkaran. Salah seorang dari anggota kelompok berperan sebagai Kucing (Meong) dan salah seorang lagi berperan sebagai Tikus (Bikul).

Diawali dengan Meong dan Bikul berada dalam lingkaran. Dengan iringan lagu Meong-Meong, permaianan dimulai, dimana Meong mengejar Bikul dan Bikulpun berlari di dalam lingkaran menghindar dari Meong. Para pemain yang membentuk lingkaran melindungi Bikul dengan cara saling berpegangan tangan yang dirintangkan, memperkenankan Bikul keluar dari lingkaran, dan menutup agar Meong tak mengejarnya ke luar. Tapi, jika Meongnya cerdik, dia akan dapat menerobos keluar lingkaran dan terjadilah kejar2an dengan Bikul. Dan apabila Bikul tertangkap meong, maka permaian selesai. Dilanjutkan dengan pemain berikutnya dan seterusnya.

Lirik lagunya sebagai berikut :

Meong-Meong
Alihja Bikule
Bikul Gede-Gede
Buin Mokoh-mokoh
Kereng pesan Ngerusuhin
(Juk Meng......Juk Kul........Juk Meng....Juk Kul.....)

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia  dengan apresiasinya adalah sebagai berikut :

Meong-Meong (Kucing-kucing)
Tolong engkau cari itu si Bikul (Tikus)
Betapa Tikusnya besar-besar
Lagian gemuk-gemuk
Selalu suka bikin rusuh.

Lagu ini sering dijadikan ilustrasi dalam berbagai pertunjukan rakyat di Bali seperti pertunjukan Topeng dan atau Wayang dengan gambaran keadaan negara dalam kekinian adalah seperti berikut :

"Meong-Meong (Kucing-kucing) dikonotasikan sebagai aparat penegak hukum (seperti aparat kepolisian, atau aparat hukum dan HAM dan bahkan KPK). Dimana situasinya sekarang ini para aparat tersebut diharapkan tampil untuk menangkap Tikus-Tikus (Koruptor). Keberadaan koruptor kini terasa semakin besar dan tambah gemuk saja. Dan jika tak segera ditangkap, mereka akan semakin bikin keadaan rusuh dan selalu semakin rusuh. 
Tapi,.....apa boleh buat, ...jika Tikus (koruptor) semakin besar, maka Meong (kucing atau aparat) bisa ketakutan dan kewalahan berhadapan  dengan Tikus (koruptor) yang makin besar dan semakin merajalela?"

Selanjutnya, penonton diajak untuk ikut memikirkan keadaan ini dan jangan berhenti mencari daya dan upaya. 

Begitulah kesenian di Bali, terutama pertunjukan rakyat menjadi tetap menarik, karena senantiasa dapat menjadi media kritik sosial dalam kekinian. Itu pula sebabnya pertunjukan rakyat "Topeng Bondres" dan "Wayang Kulit" tetap digemari dan lestari. Tentu saja disana sini pertunjukan tersebut menyesuaikan dengan perkembangan ilmu, teknologi elektronik dalam gambar dan suara.

Sebenarnya masih banyak lagu2 anak2 untuk usia Play Group yang sering kami nyanyikan dahulu, kini kami apresiasi lebih mendalam, ternyata syarat "Makna".
Mungkin kawan-kawan kami masih memiliki kenangan lagu2 yang lain yang dapat mengingatkan kita akan keceriaan masa kecil kita dahulu.

Begitulah, tanpa disadari kami belajar sendiri dalam "Kelompok Bermain" tanpa sekolah yang dibatasi dinding tembok, beratapkan genteng, tetapi kami melakukannya di alam bebas dihalaman, di lapangan yang ada, di sawah dengan bermain, bernyanyi dan kadang kala mendengarkan cerita dari para tetua kita yang sukarela mendongeng di Balai Banjar (Balai Banjar=Bangunan gedung yang dimiliki oleh setiap Banjar di Bali).


Jumat, 29 Agustus 2014

Kelompok Bermain.


Baiklah, kini saya bercerita pengalaman belajar saya dalam Kelompok bermain," ketika saya masih usia Play Group (istilah sekarang), sekitar Tahun 1950-an-1960-an.


Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan jumlah anak yang lahir dari orang tua saya untuk ukuran sekarang adalah sangat besar. Saya lahir dengan 8 orang bersaudara.
Saya anak nomor empat, itulah sebabnya nama depan saya adalah Ketut.

Sistim pemberian nama anak2 di Bali memang unik dan sangat khusus hanya ada di Bali. Anak pertama biasanya diberi nama Wayan atau Gede, atau Putu. Semuanya berarti paling tua. Anak kedua bernama Made artinya di tengah2. Anak ketiga biasanya diberi nama Nyoman, sebenarnya artinya adalah yg paling kecil. Tetapi, ada nama anak yang keempat yaitu Ketut yg artinya kitut (mungkin lahir diluar konsep perencanaan). Selanjutnya jika lahir anak kelima dan seterusnya, maka penamaan akan kembali mulai dari Wayan, Made, Nyoman, Ketut.........dst. Dari konsep pemberian nama itu, dapat diduga bahwa sesungguhnya orang tua kita jaman dahulu sudah cukup genius untuk mengajarkan konsep Keluarga Berencana (KB yg saat ini kita kenal). Tetapi, jika saat ini KB dianjurkan dua anak, jaman dahulu KB persi tetua kita di Bali tiga anak.

Nah, kita tinggalkan dulu untuk bicara konsep pemberian nama anak2 di Bali. Mari kita kembali pada judul topik yaitu "Kelompok Bermain".

Pada usia Play Group saya, tak ada nak di desa saya yang sekolah di Play Group. Tetapi, alam lingkungan serta masyarakat pendukung membuat kami berada dalam kelompok bermain.

Desa saya memiliki batas2 yaitu disebelah utara ada sungai kecil yang cukup dalam dan mengalir airnya ketika itu masih cukup jernih. Disitulah salah satu tempat kami bermain dengan kelompok bermain kami ketika itu. Disebelah timurnya adalah desa sebelah, yang pada waktu itu masih banyak pepohonan yang rimbun dan belum dibangun jalan raya beraspal seperti sekarang ini. Jalan ketika itu masih sempit dan tanah berbatu. Pepohonan yang rimbun membuat desa seakan2 dibatasi oleh hutan yang lebat. Di semak2 yang rimbun, juga merupakan arena bermain kami dengan kelompok bermain . Di sebelah selatan dan barat ada sawah yg terhampar cukup luas. Ketika masa tanam padi, sawah menyuguhkan pemandangan hijau nan sejuk. Ketika padi menguning, para petani  memanen padinya dan banyak diantara teman anggota kelompok bermain kami ikut turun kesawah mengais sisa2 panenan dari petani. Begitulah mereka membantu orang tuanya untuk dapat menambah hasil padi untuk menambah jatah beras keluarga. Penduduk desa ketika itu, biasanya memakan nasi yang dicampur dengan ketela. Semuanya hasil petani setempat. Kami tak merasa bahwa keadaan hidup sederhana itu menyedihkan. Bahkan kami penduduk desa sangat menikmati keadaan dan suasana kebersamaan waktu itu.

Mengenai permainan dalam Kelompok bermain kami dengan anak2 sebaya se desa sangat beraneka ragam. Untuk di sungai ada salah satu permainan yang disebut permainan "buaya2-an".
Permainan buaya2-an dilakukan berkelompok sekitar sepluh orang. Sehingga terbentuk dua kelompok masing2 berjumlah lima orang.  Satu kelompok disebut kelompok buaya yg lainnya kelompok mangsa buaya.
Teknis permainannya adalah masing2 kelompok menempati arealnya. Kelompok buaya biasanya lebih dihulu daripada kelompok mangsa buaya. Kami bermain saling tarik2an. Dan apa bila salah satu dari kami lepas dari tarikan teman, maka ini kesempatan bagi kelompok lawan untuk menariknya sampai tempat yang ditentukan. Demikian seterusnya, sampai salah satu kelompok habis ditarik ketempat tersebut oleh kelompok lain. Maka, kalahlah kelompok yang anggotanya habis ditarik oleh kelompok lawan. Kekalahan ditelan oleh kelompok silih berganti. Kadang2 kelompok mangsa yang kalah. Kadang2 Kelompok buaya juga dapat menelan kekalahan. Permainan sangat sportif. Yang kalah dengan legowo mengakui kekalahan, sementara yang menang tetap dalam persahabatan dan ceria satu dengan yang lain. Barang kali ini adalah cara pendidikan keperibadian untuk membuat kita kelak menjadi pribadi2 yang tangguh dalam bekerja dan berusaha dan tetap sportif dalam persaingan hidup.
Inilah yang salah satu permaianan dalam "Kelompok Bermain" kami yang telah membentuk watak dan keperibadian kami saat ini.

Di semak2, biasanya kami bermain petak umpet. Petak umpet hanya salah satu permainan diantara banyak permainan yang lainnya, yang membuat masa kanak2 kita benar2 menjadi milik kita sesama anak2 negeri di desa kami.

Di sawah, biasanya kami suka bersama Kelompok bermain melakukan kegiatan bersama, membakar ketela atau ubi, atau mungkin kacang tanah yang kita peroleh dari mengais di ladang para petani. Semuanya kami bakar dengan menggunakan jerami. Setelah matang, kami makan bersama. Suasana menjadi sangat akrab dan menyenangkan. Ada permainan yang sangat menyenangkan adalah menggembala kerbau dan sapi2 milik teman2 sepermaian. Duduk menunggang kerbau yang jinak terasa nyaman dan mengasyikkan.

Suatu hari pernah saking asyiknya bermain dalam kelompok kami tidak sadar kalau matahari telah tenggelam di upuk barat, berarti hari telah menjelang malam. Saya baru pulang sore menjelang malam. Oleh ayah, saya dilarang pulang main sampai menjelang malam.  Jika sampai kejadian seperti itu, maka sang ayah akan memperlihatkan muka geramnya. Dan benar saja langsung sampai di rumah paha saya ditenteng sakit sekali. Begitulah cara ayah kami menyayangi kami. Jika keterlaluan dan dianggap melanggar aturan maka kami dimarah.
Habis kena marah, saya langsung tidur. Mungkin karena lelah seharian bermain, saya tertidur pulas.

Ada satu permainan yang mengandalkan ketangkasan, kecepatan tangan dan kelincahan menghindar yang kami sebut "Mecepetan."
Mecepetan adalah permaianan yang dilakukan berpasangan, dimana satu dengan yang lainnya adalah lawan. Teknis permainannya yaitu menggunakan tangan terjulur dengan sasaran kepala atau kaki. Jika salah satu dari pemain menyentuh kepala atau kaki, maka pemain yg kepala atau kakinya tersentuh itu berarti kalah atau mati. Kadang2 permainan mecepetan ini dilakukan secara berkelompok. Kami membagi diri atas dua kelompok. Kelompok yang satu berusaha mengumpet, kelompok yang lainnya mencari tempat persembunyian si kelompok yang ngumpet. Jika salah satu atau beberapa orang dari pengumpet diketemukan, maka terjadilah pertarungan sengit salah satu atau beberapa diantaranya mati. Jika satu kelompok habis dimatikan oleh kelompok yang lain, maka kelompok yang habis adalah kelompok yang kalah.
Yang patut dicatat adalah, bahwa anak2 kelompok bermain kami sangat sportif menerima kekalahan, jika ternyata kalah. Dan yang menang, tentu tetap menghormati yang kalah, dengan demikian persahabatan tetap terjaga. Demikianlah pembentukan mental serta keperibadian dalam kelompok bermain.

Pada jaman sekarang ini, anak2 usia pra sekolah, disekolahkan pada sekolah formal yang disebut dengan "Play Group". Tetapi, pendidikan disekolah formal memiliki tujuan, manfaat dan fungsi yang sangat jelas. Karena, keberadaannya dilatar belakangi oleh ilmu pengetahuan tentang tumbuh kembang anak. Untuk itu, di sekolah Play Group, memiliki program belajarnya masing2. Kini banyak berdiri sekolah Play Group, diantaranya banyak yang menjadi sangat terkenal, karena kemegahan sekolah serta program belajar mengajarnya yang terkonsep rapi dan sesuai kebutuhan tumbuh dan kembang anak. Tentu orang tua sekarang harus menyediakan anggaran pendidikan untuk anak pra sekolahnya itu.
Menyayangi anak salah satu caranya adalah dengan memenuhi kebutuhan pendidikannya sejak usia dini.

Begitulah anak2 jaman dahulu dibina oleh alam dan lingkungan serta adat kebiasaan dalam satu desa  dengan berbagai permainan yang membentuk watak serta keperibadian. Kami dalam kelompok bermainan tidak perlu biaya, karena tak ada yang mesti dibayar.

Kami, membentuk Group sendiri, bermain sendiri, kalau sudah lelah berhenti sendiri dan mendapat kesenangan keceriaan sendiri. Semuanya serba sendiri.   Semuanya itu menjadi bekal kami dalam mengikuti jenjang sekolah Dasar dan seterusnya kelak.

Kita tentu tak dapat memutar balik jaman. Meskipun jaman itu sangat kita rindukan, karena pada waktu itu jaman memiliki keasyikannya, memberi keceriaan dan bahkan kita menjadi sangat bahagia oleh jaman yang sudah lewat itu.

Kini jaman sudah jauh lebih maju dari pada jaman kelompok bermain kami.
Semoga, Indonesia semakin hebat dan maju terus! Pembangunan maerata keberbagai daerah! Distribusi pendapatan masyarakat tidak terlalu timpang. Sehingga, tak terasa ada kelas-kelas  di masyarakat. 
Semuanya sama rata, sama rasa, sama Bahagia!
Semoga,..........!

Kamis, 28 Agustus 2014

Anak Bertanya Orang Tuan Menjawab. Orang Tua Menjawab anak menyimak.



Pola asuh  yang diterpakan oleh Ibu dan Ayah inilah yang menentukan hidup kita kini.

Bayi yang disayang Ayah dan Ibunya kini beranjak menjadi Balita. 

Usia yang kata banyak akhli adalah usia emas (golden ages). Di usia emas ini  seorang anak hendaknya  mendapatkan pola asuhnya yang benar. Jika salah dalam pola asuh, maka anak akan mengalami tumbuh kembang yang tidak baik.

Bertanya dan bertanaya hendaknya dipahami sebagai upaya anak sedang belajar di masa hidupnya kini. Dibawah asuhan seorang ibu, Balita akan memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan. Jawaban2 atas pertanyaan itulah yang akan benar2 membantu  tumbuh kembangnya.
 

Terkadang ada Ibu yang tak memahami ikhwal ini. Sang Ibu heran karena sang  anak seperti tak henti-hentinya bertanya. Sadarilah bahwa memang demikianlah kodratnya Balita.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris tahun 2013 lalu, seorang anak mampu mengajukan hingga 300 pertanyaan setiap hari, dan terungkap juga bahwa anak gadis 4 tahun lebih banyak bertanya dibandingkan anak laki-laki.

Nah jika demikian, adakah Ibu harus  mengalami pusing tujuh keliling saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan si kecil yang seperti tak ada habisnya?
Tidak!. Seorang ibu  bukanlah seorang wanita yg hanya hamil dan melahirkan anak. Tapi, lebih dari itu, seorang Ibu mengambil peran tanggung jawab untuk tumbuh kembang si kecil, bersama2 seorang ayah.

Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Mengacu dari ungkapan Robert Fulghum diatas, dapat berarti bahwa anak tak akan habis2nya untuk melakukan pengamatan demi pengamatannya. Jika dari pengamatannya timbul pertanyaan, maka iapun mengajukan pertanyaan. Cara kita memberi jawaban atas berbagai  pertanyaan akan menentukan keberhasilan anak dalam tumbuh kembangnya.


Berhasil mendidik anak-anak dengan baik pastilah impian semua  orang tua. Setiap  orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu?

Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta Sesulit apapun, tanggung jawab untuk menjadikan anak bertumbuh dan berkembang secara positif adalah tanggung jawab.
Untuk itu, ijinkan saya berbagi!
Jika program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, maka sang anak akan tumbuh dan berkembang negatif. Inilah yang barang kali membuatnya jadi berantakan di masa depan?  Apa yagn mempengaruhi fikiran bawah sadarnya dimulai dari berbagai pertanyaan yang ada dibenaknya dan mendapat jawaban negatif atau dengan contoh perilaku negatif.  Jika anak Balita menyaksikan berbagai tontonan judi (misalnya sabung ayam) maka, timbul pertanyaan dibenaknya adakah judi itu baik? Jika terus menerus terlihat dilakukan orang tua, kelak merekapun akan tumbuh menjadi penjudi.

Berikut adalah contoh perilaku negatif yang memberi akibat sesuai dengan perilaku itu.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya


Barang kali ini yang membuat orang melakukan pilihan jika hendak mencari pasangan hidupnya. Adalah suatu keberuntungan jika seorang suami menikahi seorang istri yang peduli dengan perkembangan anaknya. Kita perlu saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kita dan sikap serta perilaku kita yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita harus sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Itulah yang patut dijaga!

Jadi pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.

Seperti itu pula keberadaan kita kini adalah buah pola asuh sang Ayah dan Sang Ibu. Maka jadilah Ibu bagi wanita dan Ayah bagi laki2.
Karena, untuk menjadi Ibu wanita diciptakan dan untuk menjadi Ayah laki2 diciptakan oleh Tuhan!

Salam

Rabu, 27 Agustus 2014

Mengawali Belajar.

Jika orang bilang Belajar Sepanjang Hidup, bukan berarti tiada awal dari akhirnya. Maksudnya adalah bahwa, begitu kelahiran kita kita semestinya sudah mulai awal pelajaran kita. Ketika itu, kita mengikuti naluri bayi kita. Kita mulai belajar untuk memahami bahwa kita punya rasa haus dan lapar.
Maka, kitapun menggelepar-gelepar, berusaha untuk mencari mana yg bisa dimakan dan sekaligus diminum. Ketika itu, naluri mengajarkan kita untuk menggapai puting susu sang bunda.

Sang bunda benar2 adalah seorang ibu. Yang tidak hanya sekedar hamil dan melahirkan kita. Tapi, beliau mengajarkan kita untuk menyusu, beliau yg mengajarkan kita untuk bisa tersenyum, karena beliau memberikan contoh senyumannya yg sangat manis. Dan kitapun mulai belajar tersenyum.

Tersenyum dan tersenyum, entah kepada siapa. Tersenyum kepada sang Bunda, kepada sang ayah, kepada sanak keluarga dan kepada siapa saja. Sesekali kita juga menangis. Menangis sebagai isyarat, kalau ada yg kurang untuk kita. Maka sang Bunda dengan sangat memahmi keberadaan kita berupaya untuk memenuhi apa yg kurang pada diri kita sang bayi. Sang bunda melahirkan kita, merawat kita, mengayomi dan melindungi sampai kita dapat bertumbuh menjadi dewasa, atas kasih dan sayangnya..

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ibu, maka Wanita diciptakan!

Peran ayah? Tentu tidak sekedar sebagai pejantan tangguh. Tapi beliau memikul tanggung jawab sebagai nakhoda keluarga.
Ibarat nakhoda kapal layar, sang nakhoda bertanggung jawab terhadap seluruh penumpang yang ada. Beliau bertanggung jawab dalam pemenuhan sandang pangan papan. Beliau bertanggung jawab atas terciptanya keharmonisan antar keluarga dan antar keluarga dengan keluarga yang lain serta masyarakat lingkungannya. Sang ayah menjadi nakhoda dalam keluarga karena tanggung jawab yang didasari oleh cinta dan kasih sayangnya yang tulus.

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ayah, maka laki2 diciptakan!