Eda Ngaden Awak Bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luhu
Ilang luhu buke katah
Wyadin ririh,...
Enu liu pelajahin.
Lagu itu berbahasa Bali, waktu itu dinyanyikan tanpa penjiwaan. Kami hanya menghapalkannya.
Tapi, hapalannya melekat sampai saat ini. Saat kami mulai mengetahui ini, kami merasakan betapa kami telah mendapatkan anugrah Tuhan yang berkelimpahan, sehingga kita dapat mengarungi hidup sampai usia sekarang ini. Kami telah mulai dapat mensyukuri hidup dan semua yang kita dapat dan peroleh sampai saat ini.
Terimakasih Tuhan, atas bekatMu yang berkelimpahan kepada kami setiap saat!
Lebih jauh, jika lagu diatas diapresiasi kira2 maknanya sebagai berikut :
Menjadi orang, janganlah sombong, gede rasa, merasa diri paling pintar.
Mestinya, biarkanlah orang2 lain yang akan menilai dan mengatakannya.
Karena, ibaratnya pekerjaan menyapu dengan sapu,...........
Tak pernah sampah itu habis meski terus disapu.
Sebab, jika sampah2 habis tersapu, masih ada lagi debu2 yang akan selalu tumbuh dan bertumbuh.
Oleh karena itu, seberapapun pintarnya kita, maka pelajaran demi pelajaran tak akan habis dan selalu masih banyak yang mesti kita pelajari.
Nampaknya dengan mengajarkan lagu ini tetua kita ingin berisyarat agar kita mengarungi hidup ini dengan selalu belajar dan tak mudah menyombongkan diri dengan kepintaran.
Lagu lain yang juga sangat populer dikalangan anak2 usia Play Group dijaman saya adalah lagu "Meong-Meong."
Lagu Meong-Meong, dinyanyikan bersamaan dengan suatu permaianan Meong (Kucing) dan Tikus (bikul). Permaianan ini dilakukan dengan satu kelompok yang tak terbatas jumlahnya. Semua anggota kelompok membentuk lingkaran. Salah seorang dari anggota kelompok berperan sebagai Kucing (Meong) dan salah seorang lagi berperan sebagai Tikus (Bikul).
Diawali dengan Meong dan Bikul berada dalam lingkaran. Dengan iringan lagu Meong-Meong, permaianan dimulai, dimana Meong mengejar Bikul dan Bikulpun berlari di dalam lingkaran menghindar dari Meong. Para pemain yang membentuk lingkaran melindungi Bikul dengan cara saling berpegangan tangan yang dirintangkan, memperkenankan Bikul keluar dari lingkaran, dan menutup agar Meong tak mengejarnya ke luar. Tapi, jika Meongnya cerdik, dia akan dapat menerobos keluar lingkaran dan terjadilah kejar2an dengan Bikul. Dan apabila Bikul tertangkap meong, maka permaian selesai. Dilanjutkan dengan pemain berikutnya dan seterusnya.
Lirik lagunya sebagai berikut :
Lagu lain yang juga sangat populer dikalangan anak2 usia Play Group dijaman saya adalah lagu "Meong-Meong."
Lagu Meong-Meong, dinyanyikan bersamaan dengan suatu permaianan Meong (Kucing) dan Tikus (bikul). Permaianan ini dilakukan dengan satu kelompok yang tak terbatas jumlahnya. Semua anggota kelompok membentuk lingkaran. Salah seorang dari anggota kelompok berperan sebagai Kucing (Meong) dan salah seorang lagi berperan sebagai Tikus (Bikul).
Diawali dengan Meong dan Bikul berada dalam lingkaran. Dengan iringan lagu Meong-Meong, permaianan dimulai, dimana Meong mengejar Bikul dan Bikulpun berlari di dalam lingkaran menghindar dari Meong. Para pemain yang membentuk lingkaran melindungi Bikul dengan cara saling berpegangan tangan yang dirintangkan, memperkenankan Bikul keluar dari lingkaran, dan menutup agar Meong tak mengejarnya ke luar. Tapi, jika Meongnya cerdik, dia akan dapat menerobos keluar lingkaran dan terjadilah kejar2an dengan Bikul. Dan apabila Bikul tertangkap meong, maka permaian selesai. Dilanjutkan dengan pemain berikutnya dan seterusnya.
Lirik lagunya sebagai berikut :
Meong-Meong
Alihja Bikule
Bikul Gede-Gede
Buin Mokoh-mokoh
Kereng pesan Ngerusuhin
(Juk Meng......Juk Kul........Juk Meng....Juk Kul.....)
Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan apresiasinya adalah sebagai berikut :
Meong-Meong (Kucing-kucing)
Tolong engkau cari itu si Bikul (Tikus)
Betapa Tikusnya besar-besar
Lagian gemuk-gemuk
Selalu suka bikin rusuh.
Lagu ini sering dijadikan ilustrasi dalam berbagai pertunjukan rakyat di Bali seperti pertunjukan Topeng dan atau Wayang dengan gambaran keadaan negara dalam kekinian adalah seperti berikut :
"Meong-Meong (Kucing-kucing) dikonotasikan sebagai aparat penegak hukum (seperti aparat kepolisian, atau aparat hukum dan HAM dan bahkan KPK). Dimana situasinya sekarang ini para aparat tersebut diharapkan tampil untuk menangkap Tikus-Tikus (Koruptor). Keberadaan koruptor kini terasa semakin besar dan tambah gemuk saja. Dan jika tak segera ditangkap, mereka akan semakin bikin keadaan rusuh dan selalu semakin rusuh.
Tapi,.....apa boleh buat, ...jika Tikus (koruptor) semakin besar, maka Meong (kucing atau aparat) bisa ketakutan dan kewalahan berhadapan dengan Tikus (koruptor) yang makin besar dan semakin merajalela?"
Selanjutnya, penonton diajak untuk ikut memikirkan keadaan ini dan jangan berhenti mencari daya dan upaya.
Begitulah kesenian di Bali, terutama pertunjukan rakyat menjadi tetap menarik, karena senantiasa dapat menjadi media kritik sosial dalam kekinian. Itu pula sebabnya pertunjukan rakyat "Topeng Bondres" dan "Wayang Kulit" tetap digemari dan lestari. Tentu saja disana sini pertunjukan tersebut menyesuaikan dengan perkembangan ilmu, teknologi elektronik dalam gambar dan suara.
Sebenarnya masih banyak lagu2 anak2 untuk usia Play Group yang sering kami nyanyikan dahulu, kini kami apresiasi lebih mendalam, ternyata syarat "Makna".
Mungkin kawan-kawan kami masih memiliki kenangan lagu2 yang lain yang dapat mengingatkan kita akan keceriaan masa kecil kita dahulu.
Begitulah, tanpa disadari kami belajar sendiri dalam "Kelompok Bermain" tanpa sekolah yang dibatasi dinding tembok, beratapkan genteng, tetapi kami melakukannya di alam bebas dihalaman, di lapangan yang ada, di sawah dengan bermain, bernyanyi dan kadang kala mendengarkan cerita dari para tetua kita yang sukarela mendongeng di Balai Banjar (Balai Banjar=Bangunan gedung yang dimiliki oleh setiap Banjar di Bali).
Begitulah, tanpa disadari kami belajar sendiri dalam "Kelompok Bermain" tanpa sekolah yang dibatasi dinding tembok, beratapkan genteng, tetapi kami melakukannya di alam bebas dihalaman, di lapangan yang ada, di sawah dengan bermain, bernyanyi dan kadang kala mendengarkan cerita dari para tetua kita yang sukarela mendongeng di Balai Banjar (Balai Banjar=Bangunan gedung yang dimiliki oleh setiap Banjar di Bali).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar