Sabtu, 06 Juni 2015

Mulai Menapaki Bangku Sekolah.

Anak2 dan cucu kita kini, memulai menapaki bangku sekolah sejak mereka berada pada dini usia. Namun, saya dan teman2  sebaya , lebih2 yang bertempat tinggal di pedesaan, tidak mengenal bangku sekolah ketika kita masih berada pada usia dini (sekitar umur 5 tahun ke bawah).
Itulah salah satu kemajuan yang kini kita rasakan bersama dan sangat membanggakan. Pendidikan usia dini diyakini  sangat penting. Sehingga, dimana-mana dibangun sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tidak terkecuali di desa2 yang jauh terpencilpun, diusahakan adanya sekolah2 untuk anak-anak Usia dini, yang dikenal dengan istilah "Play Group", yang akan dilanjutkan ke sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Di Bali, balai banjar sebagai prasarana dilengkapi dengan sarana bermain anak2 untuk memnuhi persyaratan bagi pendidikan anak usia dini (PAUD). Begitulah sekarang ini hak anak untuk memperoleh penbdidikan sudah terpenuhi sejak usia dini.


Saya mulai menapaki bangku sekolah setelah saya berusia enam tahun. Saya memulainya di tingkat Sekolah Dasar (SD) . Sebelumnya Sekolah Dasar  disebut Sekolah Rakyat (SR).
Memasuki Sekolah Dasar itulah saya diperkenalkan huruf dan angka oleh guru sekolah saya.
Saya masih mengingatnya ketika pertama kali saya diperkenalkan dengan angka nol (()). Kami sekelas menulis angka nol berjejer di tempat menulis kami ketika itu. Kami tak mengenal buku tulis pada awalnya. Kami menulis di alat menulis yang bernama "batu tulis". Mungkin kini batu tulis sudah punah dan lenyap dari peredaran. Setelah angka nol dilanjutkan belajar angka sampai sembilan dan seterusnya. Sesudah itu kami mulai belajar menghitung.

Belajar huruf, kami pertama kali diperkenalkan huruf "a,i,u,e,o". Bacaan pertama yang berbahasa Indonesia adalah "Bola". Selain itu ada juga buku bacaan yang berbahasa Bali. Kami menyebutnya "Buku nini". Deisebut buku nini karena kami pertama belajar membaca adalah membaca kata "nini".
Huruf di eaja : n-i n-i menjadi nini. Seperti itulah kami pertama kali belajar membaca. Pelajaran membaca dan menulis serta berhitung sangat menyenangkan. Begitulah kami memulai menapaki bangku sekolah. Perlahan-lahan belajar angka, berhitung, huruf dan membaca serta menulis, akhirnya kami dapat melanjutkan pelajaran demi pelajaran berikutnya, sehingga kamipun naik ke kelas berikutnya yaitu dari kelas satu lanjut ke kelas dua, kelas tiga dan seterusnya setelah kelas enam kami diikutkan semuanya ujian kelas enam. Pada waktu itu, tidak harus semua murid kelas enam lulus ujian. Sebab, meskipun tidak lulus ujian teman kita itu dapat melanjutkan sekolahnya kejenjang berikutnya yaitu tingkat "Sekolah Menengah Pertama (SMP)". Hanya saja mereka yang tidak lulus ujian, hanya diterima di beberapa sekolah swasta. Meskipun demikian, banyak diantara mereka itu bisa melanjutkan sekolahnya sampai sarjana.

Begitulah "kertas putih" mulai tergores yang kini entah sudah berapa goresan tulisan tertoreh pada kami yang konon pada mulanya berupa kertas putih kosong. Goresan-goresan itu kami dapatkan di sekolah oleh para guru kami, yang sebelumnya kertas putih itu tergores sendiri di lingkungan group bermain kami di desa, tanpa mengenal Play Group maupun Taman Kanak-Kanak.

Anak adalah "kertas putih" kosong yang siap untuk ditulisi. Tulisan itu akan dapat menentukan isi anak yang berupa kertas putih kosong itu. Siapa yang mengisi dan apa yang tergores di kertas putih itu, akan menentukan bentuk dan karakter anak kita. Itulah keyakinan dan "mind set" yang telah tertanam sejak lama pada masyarakat dunia pendidikan.

Belakangan teori kertas putih ini nampaknya terbantahkan. Sebab, jika anak diidentikkan kertas putih, mestinya kertas yg ditulis oleh orang yg sama dengan tulisan yang sama pula mestinya hasilnya akan sama. Tetapi, kenapa masing2 anak keluar dari sekolah yang sama mengalami keadaan yang berbeda?

Disini teori kertas putih itu terbantahkan oleh adanya  keyakinan  bahwa setiap anak sudah membawa samskaar, vasana. Hal ini mungkin bisa disebutkan sebagai bawaan lahir. Mind & Hardware Brainnya, adalah spesifik merupakan miliknya sendiri . Sehingga haruslah  di terima kalau masing-masing anak memiliki hal "positif" & "negatif" yang nyata-nyata memang berbeda satu anak dengan anak lainnya.
Anak didik, terutama usia PAUD s.d. SD, kebanyakan belum memahami hal ini. Sehingga belum mampu secara sadar untuk merubah segala hal "positif" & "negatif". Padahal untuk itu di perlukan suasana & triggers khusus, yaitu yang disebut  Attentive, Meditativess.

Menurut pandangan ini, Mind & Brain dapat di ubah secara dini dengan suasana meditatif yang sengaja di ciptakan, oleh Orang Tua, dimana Orang Tua mesti menyadari hal ini. Apa niatnya "membuat" anak? Setelah lahir, mau di apakan si anak? Mengerti tidak "positif" & "negatif" bawaan anak?
Lalu, berdasar hal tersebut, orangtua mau mendidik seperti apa? Mau membagi sebagian beban tsb ke Guru & Sekolah yang seperti apa?
Orangtua yang tidak mau tahu hal-hal selain si anak mesti dapat ranking, menjadi anak yang kaya raya secara materi (saja), sudah dapat di tebak bagaimana mereka mendidik anak, & Guru-Sekolah seperti apa yang mesti di pilihnya.

Oleh Guru & Sekolah juga dapat merubah Mind & Brain .
Hendaknya orangtua  mau dengan "sukarela" sharing time & energy dengan Guru & Sekolah untuk men Transformasi anaknya "menjadi" seperti yang mereka pahami.
Guru mesti memahami ini. Ia mesti bisa memperlakukan anak didiknya minimal sesuai ekspektasi orangtua, atau dengan kata lain menjadikan anak didiknya seperti anak sendiri, bahkan idealnya, lebih.

Sekolah,  tempat di mana Guru mendidik, tentu mesti sinkron, matching dengan maksud Guru & Orangtua.
Mungkinkah Sekolah dapat dibuat seperti sebuah Ashram dengan Kepala Sekolah nya sebagai leader of Ashram?
Untuk itu, Guru & Sekolah mesti tidak di bebani & terbebani dengan ongkos2 materi untuk menjalankan hal ini. Full perhatian mereka to create suasana kondusif, Attentive-Meditativeness, yang mampu men Transform Mind & Brain anak didiknya ke arah Kemuliaan. Dengan kesadaran penuh bahwa dengan karakter mulia, anak didik couls find his/her own way to happiness or even more than that. Demikian pandangan yang ada dan mungkin berbeda dengan pandangan dimana anak adalah "kertas putih yang kosong" tadi.

Demikianlah, mesti dijawab siapa yang harus membantu hal ini, supaya Guru-Sekolah tidak memikirkan hal lain? Untuk itu so pasti yang harus membantu hal ini adalah  "Masyarakat & Pemerintah."

Kembali kepada cerita perjalanan saya menapaki bangku Sekolah Dasar. Setelah menempuh pelajaran sampai kelas VI (kelas enam), kami ujian. Pada waktu itu, dari 18 (delapanbelas) anak, yang lulus ujian hanya 4(empat) orang. Bayangkan kalau itu terjadi pada anak2 kita sekarang. Orang tua atau masyarakat pastilah akan ribut. Ribut untuk saling menyalahkan. Ribut untuk mencari kambing hitam penyebab rendahnya kuantitas kelulusan. Tapi, pada waktu itu kita biasa-biasa saja. yang lulus boleh mendaftar kesekolah SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri. Yang tidak lulus ke sekolah swasta.  No problem. Karena buktinya, banyak diantara teman-teman yang tadinya tidak lulus di SD tapi, bisa melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya dan pada waktunya mereka juga bisa samapai Sarjana. Bahkan, salah seorang dari teman kami berhasil menyandang gelar Doktor (S3) dan menjadi dosen yang disegani ditempat dimana dia mengajar.

Meskipun demikian, tentu tidak berarti sistim yang sudah lama itu adalah sistim yang baik, sehingga ada pemikiran kembali kepada cara lama. Sama sekali bukan begitu maksudnya. Saya tetap yakin, bahwa semakin lama sistim itu berubah kearah yang lebih baik dan lebih maju. Yang terpenting, barangkali semua kita berharap bahwa aoutput dari pendidikan tidak hanya membuat kita itu pintar berteori. Tetapi jika kita kaya akan berbagai teori dan berbagai ilmu pengetahuan, hendaknya dapat diterapkan guna meningkatkan kualitas hidup kita. Semoga, semakin kedepan kita akan menjadi semakin maju.

Nah sekarang mari kita bayangkan jika 2 hal di atas kita ubah sedikit settingnya?
Ada anak dari lahirnya terlihat sudah suka menyiksa binatang, merusak mainan, mem bully teman-temannya.
Lantas, orangtuanya  ingin anaknya menjadi "pembela agamanya" & menjadi "kurir surga" bagi ortuanya. maka, guruu & Sekolah  yang di cari sudah bisa "di tebak." Suasana yang di ciptakan Guru & Sekolah bisa jadi  justru semakin memperkuat kecederungan si anak dengan embel-embel "yang boleh di rusak adalah yang tidak se agama." Segala macam "doa" di sekolah di arahkan untuk hal ini.
Jika ada yang demikian, maka  harus ada yang  memutus mata rantai ini? siapa dia? so pasti "masyarakat & Pemerintah."

Tidak hanya memberi materi saja tapi memastikan tiap-tiap Sekolah yang ada adalah berdasarkan Akar Budaya yang mulia, bukan "akar agama yang di anggap mulia."
Jadi memang menjadi tugas Masyarakat & Pemerintah untuk menggali, punyakah kita akar budaya yang mulia & adiluhung? Pernahkah kita sangat maju peradabannya? Kalau iya, mengapa pernah maju & mengapa kemudian merosot?
Ini Utopia?  Jika sebagian besar masyarakat, & pemerintah masa bodo dengan hal ini, kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap Akar budaya dan peradaban maju bangsa ini, bisa bersinergi dengan kelompok Guru-Sekolah  yang masih sinkron, align.
Kata orang kalau mau selalu ada jalan.

Tanpa karakter yang mulia, lupakan Kebahagiaan.
Jika kita beranggapan cuma uang tujuan hidup ini, ajarkan saja cara mencuri yang legal di mata hukum. Pintar ngeles sehabis mencuri. Maka sukseslah hidup untuk mendapatkan uang banyak. Tetapi, coba bayangkan betapa terganggunya ketenteraman dan ketertiban. Betapa hidup menjadi semakin jauh dari Bahagia. Ini Artinya, jika surga nan penuh kenikmatan materi yang menjadi tujuan, cari saja Guru-Sekolah yang sesuai di negara yang kita anggap memenuhi kriteria itu.

Nah, kini marilah kembali kepada pembicaraan awal dimana saya mulai menapaki bangku sekolah di SD. Di SD kita banyak dibentuk oleh para guru-guru SD kami yang sangat berjasa kepada kami. Beliau telah meletakkan dasar untukkami dapat metapaki pendidikan formal lebih lanjut. Beliau yang mengantarkan kami untuk dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hormat selalu kepada Bapak2/Ibu2 guru dan Terimakasih tak terhingga. Semoga senantiasa sehat dan Sejahtera!