Sabtu, 30 Agustus 2014

Nyanyian Syarat Makna!

Di usia Play Group, meskipun tidak sekolah saya dan teman2 "Kelompok Bermain"  sering nyanyi bersama. Lagu anak2 itu ternyata syarat makna, yang saya ketahui maknanya setelah saya berusia dewasa dan telah banyak belajar dalam hidup yang panjang ini. Salah satu lagu itu adalah berlirik seperti berikut ini:

Eda Ngaden Awak Bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luhu
Ilang luhu buke katah
Wyadin ririh,...
Enu liu pelajahin.

Lagu itu berbahasa Bali, waktu itu dinyanyikan tanpa penjiwaan. Kami hanya menghapalkannya.
Tapi, hapalannya melekat sampai saat ini. Saat kami mulai mengetahui ini,  kami merasakan betapa kami telah mendapatkan anugrah  Tuhan yang berkelimpahan, sehingga kita dapat mengarungi hidup sampai usia sekarang ini. Kami telah mulai dapat mensyukuri hidup dan semua yang kita dapat dan peroleh sampai saat ini.
Terimakasih Tuhan, atas bekatMu yang berkelimpahan kepada kami setiap saat!

Lebih jauh, jika lagu diatas diapresiasi kira2 maknanya sebagai berikut :

Menjadi orang, janganlah sombong,  gede rasa, merasa diri paling pintar.
Mestinya, biarkanlah orang2 lain yang akan menilai dan mengatakannya.
Karena, ibaratnya pekerjaan menyapu dengan sapu,...........
Tak pernah sampah itu habis meski terus disapu.
Sebab, jika sampah2 habis tersapu, masih ada lagi debu2 yang akan selalu tumbuh dan bertumbuh.
Oleh karena itu, seberapapun pintarnya kita, maka pelajaran demi pelajaran tak akan habis dan selalu masih banyak yang mesti kita pelajari.

Nampaknya dengan mengajarkan lagu ini tetua kita ingin berisyarat agar kita mengarungi hidup ini dengan selalu belajar  dan tak mudah menyombongkan diri dengan kepintaran.

Lagu lain yang juga sangat populer dikalangan anak2 usia Play Group dijaman saya adalah lagu "Meong-Meong."
Lagu Meong-Meong, dinyanyikan bersamaan dengan suatu permaianan Meong (Kucing) dan Tikus (bikul). Permaianan ini dilakukan dengan satu kelompok yang tak terbatas jumlahnya. Semua anggota kelompok membentuk lingkaran. Salah seorang dari anggota kelompok berperan sebagai Kucing (Meong) dan salah seorang lagi berperan sebagai Tikus (Bikul).

Diawali dengan Meong dan Bikul berada dalam lingkaran. Dengan iringan lagu Meong-Meong, permaianan dimulai, dimana Meong mengejar Bikul dan Bikulpun berlari di dalam lingkaran menghindar dari Meong. Para pemain yang membentuk lingkaran melindungi Bikul dengan cara saling berpegangan tangan yang dirintangkan, memperkenankan Bikul keluar dari lingkaran, dan menutup agar Meong tak mengejarnya ke luar. Tapi, jika Meongnya cerdik, dia akan dapat menerobos keluar lingkaran dan terjadilah kejar2an dengan Bikul. Dan apabila Bikul tertangkap meong, maka permaian selesai. Dilanjutkan dengan pemain berikutnya dan seterusnya.

Lirik lagunya sebagai berikut :

Meong-Meong
Alihja Bikule
Bikul Gede-Gede
Buin Mokoh-mokoh
Kereng pesan Ngerusuhin
(Juk Meng......Juk Kul........Juk Meng....Juk Kul.....)

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia  dengan apresiasinya adalah sebagai berikut :

Meong-Meong (Kucing-kucing)
Tolong engkau cari itu si Bikul (Tikus)
Betapa Tikusnya besar-besar
Lagian gemuk-gemuk
Selalu suka bikin rusuh.

Lagu ini sering dijadikan ilustrasi dalam berbagai pertunjukan rakyat di Bali seperti pertunjukan Topeng dan atau Wayang dengan gambaran keadaan negara dalam kekinian adalah seperti berikut :

"Meong-Meong (Kucing-kucing) dikonotasikan sebagai aparat penegak hukum (seperti aparat kepolisian, atau aparat hukum dan HAM dan bahkan KPK). Dimana situasinya sekarang ini para aparat tersebut diharapkan tampil untuk menangkap Tikus-Tikus (Koruptor). Keberadaan koruptor kini terasa semakin besar dan tambah gemuk saja. Dan jika tak segera ditangkap, mereka akan semakin bikin keadaan rusuh dan selalu semakin rusuh. 
Tapi,.....apa boleh buat, ...jika Tikus (koruptor) semakin besar, maka Meong (kucing atau aparat) bisa ketakutan dan kewalahan berhadapan  dengan Tikus (koruptor) yang makin besar dan semakin merajalela?"

Selanjutnya, penonton diajak untuk ikut memikirkan keadaan ini dan jangan berhenti mencari daya dan upaya. 

Begitulah kesenian di Bali, terutama pertunjukan rakyat menjadi tetap menarik, karena senantiasa dapat menjadi media kritik sosial dalam kekinian. Itu pula sebabnya pertunjukan rakyat "Topeng Bondres" dan "Wayang Kulit" tetap digemari dan lestari. Tentu saja disana sini pertunjukan tersebut menyesuaikan dengan perkembangan ilmu, teknologi elektronik dalam gambar dan suara.

Sebenarnya masih banyak lagu2 anak2 untuk usia Play Group yang sering kami nyanyikan dahulu, kini kami apresiasi lebih mendalam, ternyata syarat "Makna".
Mungkin kawan-kawan kami masih memiliki kenangan lagu2 yang lain yang dapat mengingatkan kita akan keceriaan masa kecil kita dahulu.

Begitulah, tanpa disadari kami belajar sendiri dalam "Kelompok Bermain" tanpa sekolah yang dibatasi dinding tembok, beratapkan genteng, tetapi kami melakukannya di alam bebas dihalaman, di lapangan yang ada, di sawah dengan bermain, bernyanyi dan kadang kala mendengarkan cerita dari para tetua kita yang sukarela mendongeng di Balai Banjar (Balai Banjar=Bangunan gedung yang dimiliki oleh setiap Banjar di Bali).


Jumat, 29 Agustus 2014

Kelompok Bermain.


Baiklah, kini saya bercerita pengalaman belajar saya dalam Kelompok bermain," ketika saya masih usia Play Group (istilah sekarang), sekitar Tahun 1950-an-1960-an.


Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan jumlah anak yang lahir dari orang tua saya untuk ukuran sekarang adalah sangat besar. Saya lahir dengan 8 orang bersaudara.
Saya anak nomor empat, itulah sebabnya nama depan saya adalah Ketut.

Sistim pemberian nama anak2 di Bali memang unik dan sangat khusus hanya ada di Bali. Anak pertama biasanya diberi nama Wayan atau Gede, atau Putu. Semuanya berarti paling tua. Anak kedua bernama Made artinya di tengah2. Anak ketiga biasanya diberi nama Nyoman, sebenarnya artinya adalah yg paling kecil. Tetapi, ada nama anak yang keempat yaitu Ketut yg artinya kitut (mungkin lahir diluar konsep perencanaan). Selanjutnya jika lahir anak kelima dan seterusnya, maka penamaan akan kembali mulai dari Wayan, Made, Nyoman, Ketut.........dst. Dari konsep pemberian nama itu, dapat diduga bahwa sesungguhnya orang tua kita jaman dahulu sudah cukup genius untuk mengajarkan konsep Keluarga Berencana (KB yg saat ini kita kenal). Tetapi, jika saat ini KB dianjurkan dua anak, jaman dahulu KB persi tetua kita di Bali tiga anak.

Nah, kita tinggalkan dulu untuk bicara konsep pemberian nama anak2 di Bali. Mari kita kembali pada judul topik yaitu "Kelompok Bermain".

Pada usia Play Group saya, tak ada nak di desa saya yang sekolah di Play Group. Tetapi, alam lingkungan serta masyarakat pendukung membuat kami berada dalam kelompok bermain.

Desa saya memiliki batas2 yaitu disebelah utara ada sungai kecil yang cukup dalam dan mengalir airnya ketika itu masih cukup jernih. Disitulah salah satu tempat kami bermain dengan kelompok bermain kami ketika itu. Disebelah timurnya adalah desa sebelah, yang pada waktu itu masih banyak pepohonan yang rimbun dan belum dibangun jalan raya beraspal seperti sekarang ini. Jalan ketika itu masih sempit dan tanah berbatu. Pepohonan yang rimbun membuat desa seakan2 dibatasi oleh hutan yang lebat. Di semak2 yang rimbun, juga merupakan arena bermain kami dengan kelompok bermain . Di sebelah selatan dan barat ada sawah yg terhampar cukup luas. Ketika masa tanam padi, sawah menyuguhkan pemandangan hijau nan sejuk. Ketika padi menguning, para petani  memanen padinya dan banyak diantara teman anggota kelompok bermain kami ikut turun kesawah mengais sisa2 panenan dari petani. Begitulah mereka membantu orang tuanya untuk dapat menambah hasil padi untuk menambah jatah beras keluarga. Penduduk desa ketika itu, biasanya memakan nasi yang dicampur dengan ketela. Semuanya hasil petani setempat. Kami tak merasa bahwa keadaan hidup sederhana itu menyedihkan. Bahkan kami penduduk desa sangat menikmati keadaan dan suasana kebersamaan waktu itu.

Mengenai permainan dalam Kelompok bermain kami dengan anak2 sebaya se desa sangat beraneka ragam. Untuk di sungai ada salah satu permainan yang disebut permainan "buaya2-an".
Permainan buaya2-an dilakukan berkelompok sekitar sepluh orang. Sehingga terbentuk dua kelompok masing2 berjumlah lima orang.  Satu kelompok disebut kelompok buaya yg lainnya kelompok mangsa buaya.
Teknis permainannya adalah masing2 kelompok menempati arealnya. Kelompok buaya biasanya lebih dihulu daripada kelompok mangsa buaya. Kami bermain saling tarik2an. Dan apa bila salah satu dari kami lepas dari tarikan teman, maka ini kesempatan bagi kelompok lawan untuk menariknya sampai tempat yang ditentukan. Demikian seterusnya, sampai salah satu kelompok habis ditarik ketempat tersebut oleh kelompok lain. Maka, kalahlah kelompok yang anggotanya habis ditarik oleh kelompok lawan. Kekalahan ditelan oleh kelompok silih berganti. Kadang2 kelompok mangsa yang kalah. Kadang2 Kelompok buaya juga dapat menelan kekalahan. Permainan sangat sportif. Yang kalah dengan legowo mengakui kekalahan, sementara yang menang tetap dalam persahabatan dan ceria satu dengan yang lain. Barang kali ini adalah cara pendidikan keperibadian untuk membuat kita kelak menjadi pribadi2 yang tangguh dalam bekerja dan berusaha dan tetap sportif dalam persaingan hidup.
Inilah yang salah satu permaianan dalam "Kelompok Bermain" kami yang telah membentuk watak dan keperibadian kami saat ini.

Di semak2, biasanya kami bermain petak umpet. Petak umpet hanya salah satu permainan diantara banyak permainan yang lainnya, yang membuat masa kanak2 kita benar2 menjadi milik kita sesama anak2 negeri di desa kami.

Di sawah, biasanya kami suka bersama Kelompok bermain melakukan kegiatan bersama, membakar ketela atau ubi, atau mungkin kacang tanah yang kita peroleh dari mengais di ladang para petani. Semuanya kami bakar dengan menggunakan jerami. Setelah matang, kami makan bersama. Suasana menjadi sangat akrab dan menyenangkan. Ada permainan yang sangat menyenangkan adalah menggembala kerbau dan sapi2 milik teman2 sepermaian. Duduk menunggang kerbau yang jinak terasa nyaman dan mengasyikkan.

Suatu hari pernah saking asyiknya bermain dalam kelompok kami tidak sadar kalau matahari telah tenggelam di upuk barat, berarti hari telah menjelang malam. Saya baru pulang sore menjelang malam. Oleh ayah, saya dilarang pulang main sampai menjelang malam.  Jika sampai kejadian seperti itu, maka sang ayah akan memperlihatkan muka geramnya. Dan benar saja langsung sampai di rumah paha saya ditenteng sakit sekali. Begitulah cara ayah kami menyayangi kami. Jika keterlaluan dan dianggap melanggar aturan maka kami dimarah.
Habis kena marah, saya langsung tidur. Mungkin karena lelah seharian bermain, saya tertidur pulas.

Ada satu permainan yang mengandalkan ketangkasan, kecepatan tangan dan kelincahan menghindar yang kami sebut "Mecepetan."
Mecepetan adalah permaianan yang dilakukan berpasangan, dimana satu dengan yang lainnya adalah lawan. Teknis permainannya yaitu menggunakan tangan terjulur dengan sasaran kepala atau kaki. Jika salah satu dari pemain menyentuh kepala atau kaki, maka pemain yg kepala atau kakinya tersentuh itu berarti kalah atau mati. Kadang2 permainan mecepetan ini dilakukan secara berkelompok. Kami membagi diri atas dua kelompok. Kelompok yang satu berusaha mengumpet, kelompok yang lainnya mencari tempat persembunyian si kelompok yang ngumpet. Jika salah satu atau beberapa orang dari pengumpet diketemukan, maka terjadilah pertarungan sengit salah satu atau beberapa diantaranya mati. Jika satu kelompok habis dimatikan oleh kelompok yang lain, maka kelompok yang habis adalah kelompok yang kalah.
Yang patut dicatat adalah, bahwa anak2 kelompok bermain kami sangat sportif menerima kekalahan, jika ternyata kalah. Dan yang menang, tentu tetap menghormati yang kalah, dengan demikian persahabatan tetap terjaga. Demikianlah pembentukan mental serta keperibadian dalam kelompok bermain.

Pada jaman sekarang ini, anak2 usia pra sekolah, disekolahkan pada sekolah formal yang disebut dengan "Play Group". Tetapi, pendidikan disekolah formal memiliki tujuan, manfaat dan fungsi yang sangat jelas. Karena, keberadaannya dilatar belakangi oleh ilmu pengetahuan tentang tumbuh kembang anak. Untuk itu, di sekolah Play Group, memiliki program belajarnya masing2. Kini banyak berdiri sekolah Play Group, diantaranya banyak yang menjadi sangat terkenal, karena kemegahan sekolah serta program belajar mengajarnya yang terkonsep rapi dan sesuai kebutuhan tumbuh dan kembang anak. Tentu orang tua sekarang harus menyediakan anggaran pendidikan untuk anak pra sekolahnya itu.
Menyayangi anak salah satu caranya adalah dengan memenuhi kebutuhan pendidikannya sejak usia dini.

Begitulah anak2 jaman dahulu dibina oleh alam dan lingkungan serta adat kebiasaan dalam satu desa  dengan berbagai permainan yang membentuk watak serta keperibadian. Kami dalam kelompok bermainan tidak perlu biaya, karena tak ada yang mesti dibayar.

Kami, membentuk Group sendiri, bermain sendiri, kalau sudah lelah berhenti sendiri dan mendapat kesenangan keceriaan sendiri. Semuanya serba sendiri.   Semuanya itu menjadi bekal kami dalam mengikuti jenjang sekolah Dasar dan seterusnya kelak.

Kita tentu tak dapat memutar balik jaman. Meskipun jaman itu sangat kita rindukan, karena pada waktu itu jaman memiliki keasyikannya, memberi keceriaan dan bahkan kita menjadi sangat bahagia oleh jaman yang sudah lewat itu.

Kini jaman sudah jauh lebih maju dari pada jaman kelompok bermain kami.
Semoga, Indonesia semakin hebat dan maju terus! Pembangunan maerata keberbagai daerah! Distribusi pendapatan masyarakat tidak terlalu timpang. Sehingga, tak terasa ada kelas-kelas  di masyarakat. 
Semuanya sama rata, sama rasa, sama Bahagia!
Semoga,..........!

Kamis, 28 Agustus 2014

Anak Bertanya Orang Tuan Menjawab. Orang Tua Menjawab anak menyimak.



Pola asuh  yang diterpakan oleh Ibu dan Ayah inilah yang menentukan hidup kita kini.

Bayi yang disayang Ayah dan Ibunya kini beranjak menjadi Balita. 

Usia yang kata banyak akhli adalah usia emas (golden ages). Di usia emas ini  seorang anak hendaknya  mendapatkan pola asuhnya yang benar. Jika salah dalam pola asuh, maka anak akan mengalami tumbuh kembang yang tidak baik.

Bertanya dan bertanaya hendaknya dipahami sebagai upaya anak sedang belajar di masa hidupnya kini. Dibawah asuhan seorang ibu, Balita akan memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan. Jawaban2 atas pertanyaan itulah yang akan benar2 membantu  tumbuh kembangnya.
 

Terkadang ada Ibu yang tak memahami ikhwal ini. Sang Ibu heran karena sang  anak seperti tak henti-hentinya bertanya. Sadarilah bahwa memang demikianlah kodratnya Balita.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris tahun 2013 lalu, seorang anak mampu mengajukan hingga 300 pertanyaan setiap hari, dan terungkap juga bahwa anak gadis 4 tahun lebih banyak bertanya dibandingkan anak laki-laki.

Nah jika demikian, adakah Ibu harus  mengalami pusing tujuh keliling saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan si kecil yang seperti tak ada habisnya?
Tidak!. Seorang ibu  bukanlah seorang wanita yg hanya hamil dan melahirkan anak. Tapi, lebih dari itu, seorang Ibu mengambil peran tanggung jawab untuk tumbuh kembang si kecil, bersama2 seorang ayah.

Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Mengacu dari ungkapan Robert Fulghum diatas, dapat berarti bahwa anak tak akan habis2nya untuk melakukan pengamatan demi pengamatannya. Jika dari pengamatannya timbul pertanyaan, maka iapun mengajukan pertanyaan. Cara kita memberi jawaban atas berbagai  pertanyaan akan menentukan keberhasilan anak dalam tumbuh kembangnya.


Berhasil mendidik anak-anak dengan baik pastilah impian semua  orang tua. Setiap  orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu?

Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta Sesulit apapun, tanggung jawab untuk menjadikan anak bertumbuh dan berkembang secara positif adalah tanggung jawab.
Untuk itu, ijinkan saya berbagi!
Jika program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, maka sang anak akan tumbuh dan berkembang negatif. Inilah yang barang kali membuatnya jadi berantakan di masa depan?  Apa yagn mempengaruhi fikiran bawah sadarnya dimulai dari berbagai pertanyaan yang ada dibenaknya dan mendapat jawaban negatif atau dengan contoh perilaku negatif.  Jika anak Balita menyaksikan berbagai tontonan judi (misalnya sabung ayam) maka, timbul pertanyaan dibenaknya adakah judi itu baik? Jika terus menerus terlihat dilakukan orang tua, kelak merekapun akan tumbuh menjadi penjudi.

Berikut adalah contoh perilaku negatif yang memberi akibat sesuai dengan perilaku itu.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya


Barang kali ini yang membuat orang melakukan pilihan jika hendak mencari pasangan hidupnya. Adalah suatu keberuntungan jika seorang suami menikahi seorang istri yang peduli dengan perkembangan anaknya. Kita perlu saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kita dan sikap serta perilaku kita yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita harus sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Itulah yang patut dijaga!

Jadi pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.

Seperti itu pula keberadaan kita kini adalah buah pola asuh sang Ayah dan Sang Ibu. Maka jadilah Ibu bagi wanita dan Ayah bagi laki2.
Karena, untuk menjadi Ibu wanita diciptakan dan untuk menjadi Ayah laki2 diciptakan oleh Tuhan!

Salam

Rabu, 27 Agustus 2014

Mengawali Belajar.

Jika orang bilang Belajar Sepanjang Hidup, bukan berarti tiada awal dari akhirnya. Maksudnya adalah bahwa, begitu kelahiran kita kita semestinya sudah mulai awal pelajaran kita. Ketika itu, kita mengikuti naluri bayi kita. Kita mulai belajar untuk memahami bahwa kita punya rasa haus dan lapar.
Maka, kitapun menggelepar-gelepar, berusaha untuk mencari mana yg bisa dimakan dan sekaligus diminum. Ketika itu, naluri mengajarkan kita untuk menggapai puting susu sang bunda.

Sang bunda benar2 adalah seorang ibu. Yang tidak hanya sekedar hamil dan melahirkan kita. Tapi, beliau mengajarkan kita untuk menyusu, beliau yg mengajarkan kita untuk bisa tersenyum, karena beliau memberikan contoh senyumannya yg sangat manis. Dan kitapun mulai belajar tersenyum.

Tersenyum dan tersenyum, entah kepada siapa. Tersenyum kepada sang Bunda, kepada sang ayah, kepada sanak keluarga dan kepada siapa saja. Sesekali kita juga menangis. Menangis sebagai isyarat, kalau ada yg kurang untuk kita. Maka sang Bunda dengan sangat memahmi keberadaan kita berupaya untuk memenuhi apa yg kurang pada diri kita sang bayi. Sang bunda melahirkan kita, merawat kita, mengayomi dan melindungi sampai kita dapat bertumbuh menjadi dewasa, atas kasih dan sayangnya..

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ibu, maka Wanita diciptakan!

Peran ayah? Tentu tidak sekedar sebagai pejantan tangguh. Tapi beliau memikul tanggung jawab sebagai nakhoda keluarga.
Ibarat nakhoda kapal layar, sang nakhoda bertanggung jawab terhadap seluruh penumpang yang ada. Beliau bertanggung jawab dalam pemenuhan sandang pangan papan. Beliau bertanggung jawab atas terciptanya keharmonisan antar keluarga dan antar keluarga dengan keluarga yang lain serta masyarakat lingkungannya. Sang ayah menjadi nakhoda dalam keluarga karena tanggung jawab yang didasari oleh cinta dan kasih sayangnya yang tulus.

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ayah, maka laki2 diciptakan!