Jumat, 29 Agustus 2014

Kelompok Bermain.


Baiklah, kini saya bercerita pengalaman belajar saya dalam Kelompok bermain," ketika saya masih usia Play Group (istilah sekarang), sekitar Tahun 1950-an-1960-an.


Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan jumlah anak yang lahir dari orang tua saya untuk ukuran sekarang adalah sangat besar. Saya lahir dengan 8 orang bersaudara.
Saya anak nomor empat, itulah sebabnya nama depan saya adalah Ketut.

Sistim pemberian nama anak2 di Bali memang unik dan sangat khusus hanya ada di Bali. Anak pertama biasanya diberi nama Wayan atau Gede, atau Putu. Semuanya berarti paling tua. Anak kedua bernama Made artinya di tengah2. Anak ketiga biasanya diberi nama Nyoman, sebenarnya artinya adalah yg paling kecil. Tetapi, ada nama anak yang keempat yaitu Ketut yg artinya kitut (mungkin lahir diluar konsep perencanaan). Selanjutnya jika lahir anak kelima dan seterusnya, maka penamaan akan kembali mulai dari Wayan, Made, Nyoman, Ketut.........dst. Dari konsep pemberian nama itu, dapat diduga bahwa sesungguhnya orang tua kita jaman dahulu sudah cukup genius untuk mengajarkan konsep Keluarga Berencana (KB yg saat ini kita kenal). Tetapi, jika saat ini KB dianjurkan dua anak, jaman dahulu KB persi tetua kita di Bali tiga anak.

Nah, kita tinggalkan dulu untuk bicara konsep pemberian nama anak2 di Bali. Mari kita kembali pada judul topik yaitu "Kelompok Bermain".

Pada usia Play Group saya, tak ada nak di desa saya yang sekolah di Play Group. Tetapi, alam lingkungan serta masyarakat pendukung membuat kami berada dalam kelompok bermain.

Desa saya memiliki batas2 yaitu disebelah utara ada sungai kecil yang cukup dalam dan mengalir airnya ketika itu masih cukup jernih. Disitulah salah satu tempat kami bermain dengan kelompok bermain kami ketika itu. Disebelah timurnya adalah desa sebelah, yang pada waktu itu masih banyak pepohonan yang rimbun dan belum dibangun jalan raya beraspal seperti sekarang ini. Jalan ketika itu masih sempit dan tanah berbatu. Pepohonan yang rimbun membuat desa seakan2 dibatasi oleh hutan yang lebat. Di semak2 yang rimbun, juga merupakan arena bermain kami dengan kelompok bermain . Di sebelah selatan dan barat ada sawah yg terhampar cukup luas. Ketika masa tanam padi, sawah menyuguhkan pemandangan hijau nan sejuk. Ketika padi menguning, para petani  memanen padinya dan banyak diantara teman anggota kelompok bermain kami ikut turun kesawah mengais sisa2 panenan dari petani. Begitulah mereka membantu orang tuanya untuk dapat menambah hasil padi untuk menambah jatah beras keluarga. Penduduk desa ketika itu, biasanya memakan nasi yang dicampur dengan ketela. Semuanya hasil petani setempat. Kami tak merasa bahwa keadaan hidup sederhana itu menyedihkan. Bahkan kami penduduk desa sangat menikmati keadaan dan suasana kebersamaan waktu itu.

Mengenai permainan dalam Kelompok bermain kami dengan anak2 sebaya se desa sangat beraneka ragam. Untuk di sungai ada salah satu permainan yang disebut permainan "buaya2-an".
Permainan buaya2-an dilakukan berkelompok sekitar sepluh orang. Sehingga terbentuk dua kelompok masing2 berjumlah lima orang.  Satu kelompok disebut kelompok buaya yg lainnya kelompok mangsa buaya.
Teknis permainannya adalah masing2 kelompok menempati arealnya. Kelompok buaya biasanya lebih dihulu daripada kelompok mangsa buaya. Kami bermain saling tarik2an. Dan apa bila salah satu dari kami lepas dari tarikan teman, maka ini kesempatan bagi kelompok lawan untuk menariknya sampai tempat yang ditentukan. Demikian seterusnya, sampai salah satu kelompok habis ditarik ketempat tersebut oleh kelompok lain. Maka, kalahlah kelompok yang anggotanya habis ditarik oleh kelompok lawan. Kekalahan ditelan oleh kelompok silih berganti. Kadang2 kelompok mangsa yang kalah. Kadang2 Kelompok buaya juga dapat menelan kekalahan. Permainan sangat sportif. Yang kalah dengan legowo mengakui kekalahan, sementara yang menang tetap dalam persahabatan dan ceria satu dengan yang lain. Barang kali ini adalah cara pendidikan keperibadian untuk membuat kita kelak menjadi pribadi2 yang tangguh dalam bekerja dan berusaha dan tetap sportif dalam persaingan hidup.
Inilah yang salah satu permaianan dalam "Kelompok Bermain" kami yang telah membentuk watak dan keperibadian kami saat ini.

Di semak2, biasanya kami bermain petak umpet. Petak umpet hanya salah satu permainan diantara banyak permainan yang lainnya, yang membuat masa kanak2 kita benar2 menjadi milik kita sesama anak2 negeri di desa kami.

Di sawah, biasanya kami suka bersama Kelompok bermain melakukan kegiatan bersama, membakar ketela atau ubi, atau mungkin kacang tanah yang kita peroleh dari mengais di ladang para petani. Semuanya kami bakar dengan menggunakan jerami. Setelah matang, kami makan bersama. Suasana menjadi sangat akrab dan menyenangkan. Ada permainan yang sangat menyenangkan adalah menggembala kerbau dan sapi2 milik teman2 sepermaian. Duduk menunggang kerbau yang jinak terasa nyaman dan mengasyikkan.

Suatu hari pernah saking asyiknya bermain dalam kelompok kami tidak sadar kalau matahari telah tenggelam di upuk barat, berarti hari telah menjelang malam. Saya baru pulang sore menjelang malam. Oleh ayah, saya dilarang pulang main sampai menjelang malam.  Jika sampai kejadian seperti itu, maka sang ayah akan memperlihatkan muka geramnya. Dan benar saja langsung sampai di rumah paha saya ditenteng sakit sekali. Begitulah cara ayah kami menyayangi kami. Jika keterlaluan dan dianggap melanggar aturan maka kami dimarah.
Habis kena marah, saya langsung tidur. Mungkin karena lelah seharian bermain, saya tertidur pulas.

Ada satu permainan yang mengandalkan ketangkasan, kecepatan tangan dan kelincahan menghindar yang kami sebut "Mecepetan."
Mecepetan adalah permaianan yang dilakukan berpasangan, dimana satu dengan yang lainnya adalah lawan. Teknis permainannya yaitu menggunakan tangan terjulur dengan sasaran kepala atau kaki. Jika salah satu dari pemain menyentuh kepala atau kaki, maka pemain yg kepala atau kakinya tersentuh itu berarti kalah atau mati. Kadang2 permainan mecepetan ini dilakukan secara berkelompok. Kami membagi diri atas dua kelompok. Kelompok yang satu berusaha mengumpet, kelompok yang lainnya mencari tempat persembunyian si kelompok yang ngumpet. Jika salah satu atau beberapa orang dari pengumpet diketemukan, maka terjadilah pertarungan sengit salah satu atau beberapa diantaranya mati. Jika satu kelompok habis dimatikan oleh kelompok yang lain, maka kelompok yang habis adalah kelompok yang kalah.
Yang patut dicatat adalah, bahwa anak2 kelompok bermain kami sangat sportif menerima kekalahan, jika ternyata kalah. Dan yang menang, tentu tetap menghormati yang kalah, dengan demikian persahabatan tetap terjaga. Demikianlah pembentukan mental serta keperibadian dalam kelompok bermain.

Pada jaman sekarang ini, anak2 usia pra sekolah, disekolahkan pada sekolah formal yang disebut dengan "Play Group". Tetapi, pendidikan disekolah formal memiliki tujuan, manfaat dan fungsi yang sangat jelas. Karena, keberadaannya dilatar belakangi oleh ilmu pengetahuan tentang tumbuh kembang anak. Untuk itu, di sekolah Play Group, memiliki program belajarnya masing2. Kini banyak berdiri sekolah Play Group, diantaranya banyak yang menjadi sangat terkenal, karena kemegahan sekolah serta program belajar mengajarnya yang terkonsep rapi dan sesuai kebutuhan tumbuh dan kembang anak. Tentu orang tua sekarang harus menyediakan anggaran pendidikan untuk anak pra sekolahnya itu.
Menyayangi anak salah satu caranya adalah dengan memenuhi kebutuhan pendidikannya sejak usia dini.

Begitulah anak2 jaman dahulu dibina oleh alam dan lingkungan serta adat kebiasaan dalam satu desa  dengan berbagai permainan yang membentuk watak serta keperibadian. Kami dalam kelompok bermainan tidak perlu biaya, karena tak ada yang mesti dibayar.

Kami, membentuk Group sendiri, bermain sendiri, kalau sudah lelah berhenti sendiri dan mendapat kesenangan keceriaan sendiri. Semuanya serba sendiri.   Semuanya itu menjadi bekal kami dalam mengikuti jenjang sekolah Dasar dan seterusnya kelak.

Kita tentu tak dapat memutar balik jaman. Meskipun jaman itu sangat kita rindukan, karena pada waktu itu jaman memiliki keasyikannya, memberi keceriaan dan bahkan kita menjadi sangat bahagia oleh jaman yang sudah lewat itu.

Kini jaman sudah jauh lebih maju dari pada jaman kelompok bermain kami.
Semoga, Indonesia semakin hebat dan maju terus! Pembangunan maerata keberbagai daerah! Distribusi pendapatan masyarakat tidak terlalu timpang. Sehingga, tak terasa ada kelas-kelas  di masyarakat. 
Semuanya sama rata, sama rasa, sama Bahagia!
Semoga,..........!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar