Rabu, 27 Agustus 2014

Mengawali Belajar.

Jika orang bilang Belajar Sepanjang Hidup, bukan berarti tiada awal dari akhirnya. Maksudnya adalah bahwa, begitu kelahiran kita kita semestinya sudah mulai awal pelajaran kita. Ketika itu, kita mengikuti naluri bayi kita. Kita mulai belajar untuk memahami bahwa kita punya rasa haus dan lapar.
Maka, kitapun menggelepar-gelepar, berusaha untuk mencari mana yg bisa dimakan dan sekaligus diminum. Ketika itu, naluri mengajarkan kita untuk menggapai puting susu sang bunda.

Sang bunda benar2 adalah seorang ibu. Yang tidak hanya sekedar hamil dan melahirkan kita. Tapi, beliau mengajarkan kita untuk menyusu, beliau yg mengajarkan kita untuk bisa tersenyum, karena beliau memberikan contoh senyumannya yg sangat manis. Dan kitapun mulai belajar tersenyum.

Tersenyum dan tersenyum, entah kepada siapa. Tersenyum kepada sang Bunda, kepada sang ayah, kepada sanak keluarga dan kepada siapa saja. Sesekali kita juga menangis. Menangis sebagai isyarat, kalau ada yg kurang untuk kita. Maka sang Bunda dengan sangat memahmi keberadaan kita berupaya untuk memenuhi apa yg kurang pada diri kita sang bayi. Sang bunda melahirkan kita, merawat kita, mengayomi dan melindungi sampai kita dapat bertumbuh menjadi dewasa, atas kasih dan sayangnya..

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ibu, maka Wanita diciptakan!

Peran ayah? Tentu tidak sekedar sebagai pejantan tangguh. Tapi beliau memikul tanggung jawab sebagai nakhoda keluarga.
Ibarat nakhoda kapal layar, sang nakhoda bertanggung jawab terhadap seluruh penumpang yang ada. Beliau bertanggung jawab dalam pemenuhan sandang pangan papan. Beliau bertanggung jawab atas terciptanya keharmonisan antar keluarga dan antar keluarga dengan keluarga yang lain serta masyarakat lingkungannya. Sang ayah menjadi nakhoda dalam keluarga karena tanggung jawab yang didasari oleh cinta dan kasih sayangnya yang tulus.

Sungguh Tuhan Maha Bijaksana. Untuk menjadi Ayah, maka laki2 diciptakan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar