Kamis, 28 Agustus 2014

Anak Bertanya Orang Tuan Menjawab. Orang Tua Menjawab anak menyimak.



Pola asuh  yang diterpakan oleh Ibu dan Ayah inilah yang menentukan hidup kita kini.

Bayi yang disayang Ayah dan Ibunya kini beranjak menjadi Balita. 

Usia yang kata banyak akhli adalah usia emas (golden ages). Di usia emas ini  seorang anak hendaknya  mendapatkan pola asuhnya yang benar. Jika salah dalam pola asuh, maka anak akan mengalami tumbuh kembang yang tidak baik.

Bertanya dan bertanaya hendaknya dipahami sebagai upaya anak sedang belajar di masa hidupnya kini. Dibawah asuhan seorang ibu, Balita akan memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan. Jawaban2 atas pertanyaan itulah yang akan benar2 membantu  tumbuh kembangnya.
 

Terkadang ada Ibu yang tak memahami ikhwal ini. Sang Ibu heran karena sang  anak seperti tak henti-hentinya bertanya. Sadarilah bahwa memang demikianlah kodratnya Balita.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris tahun 2013 lalu, seorang anak mampu mengajukan hingga 300 pertanyaan setiap hari, dan terungkap juga bahwa anak gadis 4 tahun lebih banyak bertanya dibandingkan anak laki-laki.

Nah jika demikian, adakah Ibu harus  mengalami pusing tujuh keliling saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan si kecil yang seperti tak ada habisnya?
Tidak!. Seorang ibu  bukanlah seorang wanita yg hanya hamil dan melahirkan anak. Tapi, lebih dari itu, seorang Ibu mengambil peran tanggung jawab untuk tumbuh kembang si kecil, bersama2 seorang ayah.

Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Mengacu dari ungkapan Robert Fulghum diatas, dapat berarti bahwa anak tak akan habis2nya untuk melakukan pengamatan demi pengamatannya. Jika dari pengamatannya timbul pertanyaan, maka iapun mengajukan pertanyaan. Cara kita memberi jawaban atas berbagai  pertanyaan akan menentukan keberhasilan anak dalam tumbuh kembangnya.


Berhasil mendidik anak-anak dengan baik pastilah impian semua  orang tua. Setiap  orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu?

Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta Sesulit apapun, tanggung jawab untuk menjadikan anak bertumbuh dan berkembang secara positif adalah tanggung jawab.
Untuk itu, ijinkan saya berbagi!
Jika program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, maka sang anak akan tumbuh dan berkembang negatif. Inilah yang barang kali membuatnya jadi berantakan di masa depan?  Apa yagn mempengaruhi fikiran bawah sadarnya dimulai dari berbagai pertanyaan yang ada dibenaknya dan mendapat jawaban negatif atau dengan contoh perilaku negatif.  Jika anak Balita menyaksikan berbagai tontonan judi (misalnya sabung ayam) maka, timbul pertanyaan dibenaknya adakah judi itu baik? Jika terus menerus terlihat dilakukan orang tua, kelak merekapun akan tumbuh menjadi penjudi.

Berikut adalah contoh perilaku negatif yang memberi akibat sesuai dengan perilaku itu.

Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya


Barang kali ini yang membuat orang melakukan pilihan jika hendak mencari pasangan hidupnya. Adalah suatu keberuntungan jika seorang suami menikahi seorang istri yang peduli dengan perkembangan anaknya. Kita perlu saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kita dan sikap serta perilaku kita yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita harus sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Itulah yang patut dijaga!

Jadi pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.

Seperti itu pula keberadaan kita kini adalah buah pola asuh sang Ayah dan Sang Ibu. Maka jadilah Ibu bagi wanita dan Ayah bagi laki2.
Karena, untuk menjadi Ibu wanita diciptakan dan untuk menjadi Ayah laki2 diciptakan oleh Tuhan!

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar